"kok kok bettooooook, ku kuruyyyuuuuuk"
Suara ayam-ayam sahut-menyahut menyambut indahnya mentari. Hiasan hitam kelam langit, perlahan luntur diterpa kilatan yang selalu menghangatkan bumi.
Pagi itu, seperti biasa. dengan ditemani secangkir kopi buatan si adik Maula yang comelnya bukan main, si Ihrom menikmati nuansa pagi yang menyejukkan mata bagi yang memiliki hati.
rumah dengan kayu mapple dan sebuah kolam renang yang berada di ruang tamu masih menjadi sahabat baru pagi para penghuni baru. ya, rumah yang mereka dirikan dengan memakan biaya 5M itu tidaklah bisa kita sebut sahabat setia, apalagi dengan sebutan sehidup semati. haha, umurnya saja baru kemarin kali tuh rumah
pohon sakura itu dimana?
dia tetap kokoh berdiri berkat penggeseran kursi yang didukuki si pemilik rumah. mungkin jika pohon itu bisa berbicara, 'syukurlah, aku masih bisa menemani taman ini lebih lama lagi''
kalender trus menggugurkan harinya (tahu kan ya jenis kalender yang satu ini, kalau kalian tidak tahu berarti kalian ndeso! :D). ada suatu kehampaan yang menyelimuti diri si Ihrom. si Ihrom punya rumah bagus, uang yang banyak, wajah yang.....(lanjutin sendiri deh :D). pokoknya secara kasat mata, si Ihrom ini tidak mungkin tidak merasa bahagia. tapi kenyataannya?
si Ihrom belum bisa bahagia !
usul punya usul, akhirnya pemuda ini memutuskan untuk sekedar menemui kawan lamanya, kalian bisa panggil dia Rohim atau lebih akrabnya lagi bang rohim. cerita ini cerita itu, dari barat sampai timur, semua sudah Ihrom utarakan pada temennya yang memang lebih nampak berbahagia ini.
"Kau ingin bahagia? besok temui aku disini dengan membawa makanan 50 bungkus dan apapun yang ingin kau bawa, bawalah." ujar si bang Rohim.
Ihrom berpikir buat apa besok saya harus membawa seratus makanan. "Ahh mungkin kali aja si rohim ingin ku mengadakan pesta besar-besaran dengan teman-temannya, mungkin dia ingin menunjukan kebahagiaan yang ku inginkan."
besoknya, si Ihrom pun kembali menemui si Rohim seperti yang telah dijanjikan. Ia membawa 100 bungkus makanan karena berpikir kalau untuk pesta, 50 puluh amat lah berkurang. "Jadi dimana pestanya?" tanya Ihrom.
dengan muka yang datar-datar saja layaknya sebuah dataran tinggi, si Rohim mengajak pemuda pemburu kebahagiaan ini ke sebuah tempat.
PANTI ASUHAN SAYANG ORANG TUA, begitulah tulisan yang terpampang di atas gapura kecil sebuah rumah yang terlihat amat sederhana.
"tempat apa ini,?' hanya itulah kalimat yang ada dipikirannya, hanya ada dipikirannya. dia tidak mengucapkannya karena masih menghormati si Rohim yang lebih berumur dibanding dirinya.
dibaginya makanan yang memang dipersiapkan tadi. - tadinya si dikira buat pesta-. Si Ihrom mengikuti alurnya saja sama seperti yang Rohim minta.
bedug mahgrib pun berkumandang, sesuatu yang sangat dinanti-nanti bagi mereka yang tahu rasanya menahan lapar di bulan puasa. mereka makan dengan lahapnya. Rohim sengaja merekam semua kejadian yang ada ke sebiah kamera miliknya. si Ihrom yang daritadi mengharapkan pesta, hanya mampu menggigit makanan yang ada di sendoknya dengan perasaan agak kecewa.
acarapun selesai, Ihrom dan Rohim berjalan menuju mobil yang sejak dari tadi menunggu mereka. "katanya kau akan menunjukanku kebahagian him? tapi sekarang saya tetap tidak merasa bahagia" plak plak plak, terdengar alunan langkah kaki mungil seorang gadis yang berlari menghampiri keduanya. Lana, gadis kecil penghuni panti yang sejak awal acara tadi mengikuti semua rangkaian dengan riang dan gembira.
sambil memegangi bagian bawah kemeja si Ihrom dengan logat comelnya, si lana pun berkata. "om om om, boleh nggak aku minta sesuatu?"
berpikir karena Ihrom punya uang banyak, dirinya (Ihrom) mengiyakan permintaan si gadis mungil tersebut. 'Adik kecil mau minta apa? pasti om turutin. mau boneka? atau peralatan masak-maksakan? pasti nanti om beliin.'
'bukan itu om bukan itu, tapi.....'
'tapi apa dek lana, dek lana mau baju baru yang mahal?
'bolehkan lana panggil om Ihrom dengan panggilan ayah?' kalimat yang dilontarkan dengan perasaan khas anak kecil tampak bahagia.
.jleb
dada si Ihrom terasa ditikam dengan tikaman lembut 'pisau' kasih. perasaan yang membuat dia serasa ingin menangis tapi bukan karena sakit. ia merasakan sesuatu yang begitu semilir dalam hatinya, iya, ia merasa bahagia.
"Boleh, dan boleh aku minta sesuatu dari gadis manis ini?'
mendengar jawaban itu, Lana langsung meloncat-loncat kegirangan sampai-sampi hampir lupa dengan apa yang tadi di tanyakan "ayah barunya".
"iya, apa yah?"
"ayah ingin memanggil kau dengan sebutan 'anakku sayang'"
.end
harta, rumah, jabatan, dan semua yang kebanyakan orang pikir akan memberikan sebuah kebahagian bila kita memilikinya. tapi benarkah kita akan merasakan hal bahagia karena hal -hal itu?
coba tanyakan pada hati kita yang paling jujur, dan simpan sendiri jawaban kalian dalam hati kalian.
'kalau aku banyak uang, pasti aku akan bahagia" benarkah?
kebahagian adalah suatu perasaan yang menurutku bukan karena uang, bukan juga karena kekasih yang rupawan, rumah yang amat megah, mobil yang banyak dan segala perkara-perkara materi lainnya.
KEBAHAGIAN ADALAH SAAT KITA BISA MELIHAT ORANG LAIN BAHAGIA KARENA KITA.
apakah ketika kau melihat ibumu bahagia saat dia bangga melihatmu sukses, kau tidak merasa bahagia?
apakah ketika si anak merasa senang dibelikan baju bari dan ia tampak bahagia, ibunya tidak akan merasa bahagia pula?
apakah seorang guru tidak akan merasakan bahagia jika melihat muridnya menjuarai suatu lomba atas didikannnya?
so, berbahagialah dengan jalan membahagiakan orang lain sebanyak yang kita bisa, oke?
itu bahagia versiku, apa versimu?
I_AM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar