Selasa, 24 Desember 2013

Cara Mengendarai Yang Benar?

mungkin sebagian dari kalian sudah pernah mendengar atau mungkin membaca kisah yang satu ini, dengan berniat untuk mengingatkan diriku dan dirimu dan dirinya akan sedikit kita ceritakan ulang kisahnya, barang kali bermanfaat

CARA MENGENDARAI YANG BENAR?

alkisah, hiduplah dua saudara yang bernama Ihrom dan adiknya yang bernama Maula di sebuah kota maju guna memenuhi kebutuhan hidupnya, telah 11 bulan berlalu. hidup dalam perantauan membuat kedua insan manusia ini merindu terhadap ibu bapaknya di kampung. waktu itu, bertepatan dengan h-7 hari raya.

perasaan gembira dan senang menyelimuti hati keduanya, bahkan ketika kepulangan itu masih dalam sekedar wacana. yah apa boleh buat, kerinduan memang mampu membuat seorang "terlalu" ekspresif, kalau tidak percaya, tanyakan pada anak-anak yang menanti kepulanngan ayahnya dari bekerja.

dan hari yang direncanakan pun tiba, tepat pada hari jumat, seminggu sebelum hari raya mereka mengadakan perjalanan yang banyak orang bilang dengan sebutan "MUDIK". (jangan salah, dari jaman dahulu sampai jaman kita sudah dipanggil dengan sebutan nenek moyang mungkin tradisi ini tidak akan pernah pudar bagi mereka yang memahami makna sebuah perjumpaan). dengan berbekal hasil jerih keringat mereka berbulan-bulan berbarengan dengan sebuah keledai.

Ihrom dan Maula mengendarai keledai kepunyaannya, baru menempuh jarak 100m, mereka di tegur oleh seorang nenek tua, "Dasar keluarga yang tidak punya rasa kasihan, masa keledai segitu dinaiki oleh dua orang sekaligus, sungguh tidak berperikeledaian."

mendengar komentar itu, akhirnya si Ihrom turun dari keledai, sekarang mereka berjalan dengan posisi si Maula naik di punggung keledai sedang si Ihrom berjalan kaki mengiringi mereka. baru menempuh jarak 100m, dijumpai seorang ibu tua yang berkata, "dasar anak kecil yang tidak punya perasaan, masa kakaknya disuruh jalan kaki sedangkan ia enak-enakan duduk di atas punggung keledai"

lagi lagi, karena perkataan si ibu tua tadi, mereka merubah posisi mereka dengan sama sama turun dan berjalan kaki sambil berbarengan menitih keledai kesayangannya. datanglah seorang anak kecil beserta bapaknya melintas. bahasa cadelnya tak sengaja berucap, "pah pah pah, orang-orang itu kok kurang cerdas yah pah, masa mereka punya keledai tapi tidak dinaiki si pah, lebih cerdasan adek deh pah ketimbang mereka mereka"

sebetulnya ada satu cara mengendarai lagi yang ada, tapi kita skip aja karena pada intinya sama.

dan akhirnya apa? mereka tidak sampai ke tempat tujuan.

.end

hidup ini bukanlah apa kata orang, tapi apa kata hati kita. percayalah, apapun yang kita lakukan, tidak peduli seberapa ilmiah pun yang kita lakukan. pasti akan ada saja orang yang memberikan komentar-komentar yang kadang serasa ditikam dari samping depan dan belakang.

ketika pikiran orang lain menjadi serasa sangat penting bagi kehidupan kita. maka bersiaplah kehabisan energi tanpa kita beranjak sedikitpun dari tempat kita berpijak sekarang.

salah seorang temanku berkata
"Ketika kita bermimpi, orang-orang meragukan. saat berhasil orang bilang kita hanya beruntung. ketika kita gagal, mereka tidak mau membantu dan hanya berucap, "aku bilang juga apa, dibilangin nggak manut si".

so, percayalah pada diri sendiri. oke?

I_AM
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar