Rabu, 25 Desember 2013

Obrolan dalam Kosan

Obrolan dalam Kosan

Jam weker di samping tempat tidur berdering dengan kencangnya. Ia berusaha untuk meluarkan seluruh tenaganya dalam menjalankan suatu kewajiban hariannya, membangunkan si pemilik kosan. Tapi apa daya, mungkin inilah yang dinamakan ala bisa karena terbiasa. Meskipun suara dering jam masih terdengar sampai radius 20 meter. Tidak mengubah sedikitpun posisi si penghuni kosan dari tempat pembaringan.

Kipas angin dengan setia membuat siapa saja merasakan kesejukan di balik hawa gerah yang mendera kamar kos berukuran 3 x 3 meter ini.

Sebuah meja kecil, berdiri sempoyongan di sudut kamar menahan layar kecil yang memiliki puluhan tombol serta tumpukan buku yang entah mengapa berserakan sana sini tidak tertata.

Dan hari itu, ketika si pemilik kamar tidak ada di kamar. Sebuah handphone yang tergeletak di dalam sebuah kasur mulai membuka mata. Menengok seluruh penjuru kamar dengan tatapan yang heran. Ada jam weker yang bermuka sedih, kipas yang terlihat kelelahan, buku-buku kuliah yang saling berargumen berebut tempat di meja, serta meja kecil yang keadaannya sudah membungkuk persis seperti kakek tua yang sudah tidak mampu lagi menopang tegak tubuh kurusnya.

Si handphone yang biasa dipanggil handy ini mencoba menyapa kawan lamanya, jam weker. Ada apakah gerangan jam weker itu menangis? Setelah lama menumpahkan segala isinya, hingga muncul pada suatu kalimat kesimpulan yang dari tadi berusaha ia utarakan. ‘sepertinya saya sudah tidak lagi mampu menjaga tuanku dari bangun pagi-pagi, sepertinya sudah tidak ada lagi manfaat aku disini. Tiap pagi ku berteriak-teriak, namun tuan menggubrisnya pun tidak, bahkan ketika tuan terbangun. Dia langsung tega ‘membunuhku’ dan kembali ke tempat pembaringan. Hingga ia sering terlambat dalam mencari karunia Tuhannya. Si Tuan berubah sejak dia menyukai ‘seseorang’. Dia mengucapkan semua kalimat itu dengan suara terisak. Handy hanya bisa menaruh simpati kepada kawan lamanya itu. 

Rasa penasaran itu muncul ketika melihat kipas angin yang merasa kelelahan. Konon katanya si putri kipas ini merasa kelelahan akibat si tuannya sering menghidupkannya dan lupa mematikannya ketika sudah tidak terpakai. Bayangkan saja ketika kita bekerja keras namun kerja keras kita tidak mendatangkan manfaat baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Sungguh wajah si kipas sekarang lagi sendu meski tetap memancarkan kesan kuat untuk bekerja selamanya.

Buku-buku itu juga menangis menahan kerinduan dengan keluarganya. Si Tuan kosan tega memisahkan ‘anggota keluarga buku’ itu dengan membiarkan mereka berserakan, terpisah satu sama lain. Bahkan tak jarang. Si Bapak Buku dilempar begitu saja karena tuan berusaha meraih ‘seseorang’ yang telah memanggilnya.

Begitu seterusnya dan seterusnya kesedihan datang dari seluruh perabotan kosan. Namun, ada satu benda yang di dalam kosan yang penampilannya bisa di bilang paling mengenaskan dibanding yang lainnya.

Si Handy mendekati penghuni terakhir kosan yang sejak dari tadi diam tergugu di dalam lemari. Ia memiliki coretan yang menarik serta terdapat sebuah pita tipis sebagai pembatas untuk tuannya. Alqur’an.

Suara tangis yang sejak dari tadi tertahan akhirnya meledak juga. Menyisakan sebuah kesedihan bagi siapapun yang bisa mendengarnya. Bahkan karena tangisannya itu, pak buku, putri kipas dan jam weker ikut menangis sejadi-jadinya.
‘Dulu aku paling sering di jamah ketika tuanku masih kecil, ketika tuan sudah besar, aku disimpan dalam lemari dan mulai jarang lagi di baca kembali. Hingga seluruh tubuhku yang dulunya bersih bercahaya mulai tampak kusam. Apalagi sejak si tuan mulai mencintai ‘suatu hal’. Aku jadi tidak pernah di sentuh tuanku sedetik waktu pun juga. Atau mungkin, tuanku sekarang sudah lupa kapan terakhir perjumpaan mesra antara kita terlaksana. Ohhhh, kalian semua. Adakah yang lebih menyakitkan ketika kita berada di suatu tempat, namun sama sekali kita tidak dianggap ada? Bahkan di sapa pun tidak, adakah yang lebih menyakitkan dari itu?

Wahai temanku, sungguh tidak ada yang lebih menyakitkan dari itu. Maka, semua buku, putri kipas dan jam weker berusaha menghibur dirinya yang bercucuran air mata kesedihan tak terbilang.

Demi melihat kesedihan itu, tak sengaja air mata Handy berlinang. Dalam hatinya sekarang timbul kemarahan yang teramat sangat kepada ‘seseorang’ itu yang telah membuat teman-temannya mengalami kesedihan seperti itu.

‘Wahai kawan, siapakah ‘seseorang’ itu?’ tanya Handy dengan uap muncul dari atas kepalanya. Namun, bukannya nama yang diberikan. Teman-temannya justru menyuruh Handy menemui sang pak Tua kaca, mereka bilang Handy akan menemui ‘seseorang’ itu nantinya.

Dia telah berdiri tepat di depan ‘pak tua’, ‘Pak Tua Kaca, siapakah ‘seseorang’ itu pak tua?’. Pak Tua yang terkenal bijak memberikan petunjuk bahwa ‘seseorang’ itu tepat berada di depan Handy dan sedang memandanganya dengan tatapan yang sama marahnya.

Si Handy kaget bukan main dan seketika itu menangis sejadi-jadinya dan merasa bersalah sekali terhadap teman-temannya. Tepat didepannya nampak sosok yang ia sangat mengenalnya. Tidak lain dan tidak salah lagi. ‘seseorang ‘ itu adalah dirinya sendiri, Handy.

Dalam tangis laranya, bayangan masa lalu seakan saling berebut untuk membantu Handy mengenang apa yang telah dilewatinya.

Jam weker itu sudah tidak mampu lagi karena tuannya terlalu sibuk bercengkerama dengan Handy sampai larut malam. Si putri kipas merasa kelelahan karena tuannya lupa mengistirahatkannya karena sedang asyik berduaan dengan si Handy. Keluarga buku terpisah dan dibuang begitu saja karena si pemilik sibuk menghubungkan Handy dengan teman-teman tuannya di seberang sana. Dan Alqur’an sudah menghilang dari ingatan tuan karena yang ada di pikiran tuannya hanyalah panggilan dan penantian ‘pesan’ dari Handy. Handy ada dimanapun tuannya berada. Handy telah menjadi ‘kekasih’ tuannya sekarang.

Sayang, si Handy tidak akan pernah bisa ‘menikah’ meski selalu menempel dalam hari dan hati si pemilik kosan.

Adakah yang lebih menyakitkan dibanding mengetahui diri kita sendirilah yang ternyata menjadi penyebab tersakitinya orang-orang tersayang disekitar kita?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar