Sebuah kata yang berasal dari bahasa jepang,
(mungkin karena tidak terdapat konsonan yang saling bergandengan). Kata itu
muncul pertama kali dalam sebuah anime dari negeri sakura tersebut. Jurus
terlarang yang dimiliki oleh clan uchiha dari desa konoha.
Di suatu desa yang permai, hidup seorang anak yang cerdas, brilian dan rupawan
dari suatu clan di desanya (clan merupakan suatu perkumpulan tertentu yang
biasanya berdasarkan keturunannya. Contoh realnya adalah bangsa Arab di masa
Jahiliyah). Dia cerdas karena tidak pernah ada celah dalam setiap mengerjakan
soal ujiannya. Jangan salah, anak tersebut memang masihlah berumur anak-anak. Sasuke,
begitulah teman-temannya menggunakan kata itu untuk menyapa si anak cerdas.
Kalender bulan menampilkan sebuah angka dan tulisan yang telah dilingkari
dengan spidol warna merah menyala, 28 April 2014 ujian nasional.
Lain orang, lain pula nasibnya. Lain Sasuke, lain juga dengan Naruto. Naruto masih
agak ‘kurang’ dalam tingkat kecerdasan. Setidaknya itulah anggapan masyarakat
kepada mereka berdua.
Mungkin untuk seorang yang berhati lemah, sebuah ejekan itu serasa membuat hati
ditimpuk dengan sepatu kayu yang amat keras. Sakit, sakit sekali. Tapi bukan Naruto namanya jika ia tidak menghadapi dengan ‘kekanak-kanakan’. Bukannya jatuh
terpuruk akibat cibiran, anak ini justru semakin bersemangat untuk meraih
setidaknya 10 besar di sekolahnya.
Malam itu, bintang bertaburan mengelilingi sinar purnama yang cahayanya begitu
sempurna. Kendaraan lalu lalang membuat sebuah goresan sinar yang selalu
menyenangkan di mata Naruto. Naruto mengatakan niatnya kepada Sasuke via chatting.
Naruto : Kamu pasti lagi belajar ya :P
Sasuke : Enggak tuh, lagi
tiduran saja.
Naruto : wah bohong, masak orang sejenius kamu
nggak pernah belajar?
Sasuke : :P
Sakura : eh ini lagi ngobrolin apa si, aku jadi
bingung -_-
Naruto : aku mau
ngomong sesuatu, mumpung ada Sakura juga.
Sakura : apaan?
Sasuke : apaan?
Naruto : Sasuke, aku
akan mengalahkanmu, tak peduli sejenius apa pun kamu. Aku
akan jadi nomor satu
UN di kelas. Sasuke, kau jadi saksinya. Syah?
Sakura : dari
peringkat 39?
Naruto : !@!#@$#$$^% :@
Sebuah ikrar telah diucapkan secara syah dengan saksi seorang anak perempuan
berkepang dua.
Waktu masih menyisakan 2 bulan sebelum ujian nasional dimulai. Ikat kepala
sudah menepel di jidat Naruto. Mati-matian ia berusaha. Sedangkan Sasuke? Ia
hanya duduk santai sambil memainkan game tanaman melawan zombie dari laptopnya.
Sungguh pemandangan yang kontras.
Kata orang, waktu itu terasa lama ketika kita menunggu, tapi akan terasa begitu
cepat ketika kita menikmatinya. Anak ini tidak begitu memahami maksud dari
kalimat itu. Tapi, 2 bulan memang benar-benar waktu yang sangat singkat bagi Naruto untuk belajar. Dan hari pertempuran ‘’hidup dan mati’ itu pun akhirnya tiba.
Ruangan kelas hening dan sunyi senyap. Mungkin lebih pas dengan sebutan kuburan
daripada suatu ruangan yang diisi oleh puluhan murid. Tentu bukan karena
pengawasnya ‘killer’ kemudian semua siswa takut dan tidak ada menyontek. Sebuah
tradisi dan kepercayaan yang begitu kental dari desa kecil ini. ‘lebih baik
sedikit daripada tidak jujur’. Tradisi ini terus menerus dipegang teguh meski
desa-desa yang lain malah menganggap menyontek itu adalah sesuatu yang
lumrah-lumrah saja.
Semua siswa keluar dari ruangan, ada yang memasang sedih, cemas, tegang bahkan
tertawa. Tidak bisa dipahami dengan jelas apakah itu tawa karena memang senang,
atau justru tawa yang karena terlalu amat sedih. Bukankah kita justru akan
menangis bila kita teramat bahagia? Barangkali berlaku sebaliknya juga.
Dan seperti Naruto biasanya, ia tetap memasang wajah ceria khas miliknya. Sasuke?
Ia hanya tenang-tenang saja.
Hasil ujian telah diumumkan di papan informasi. Dengan harap-harap cemas, Naruto menaruh jarinya untuk menelusuri diurutan mana namanya berada. Jarinya
digerakan dengan jalur yang berlawanan dari yang lainnya. Rute perjalanan telunjuknya justru dari bawah ke atas. Membutuhkan waktu yang lama sekali bagi
dirinya untuk menemukan nama pendek kebanggaannya. Tentu saja lama, karena
tidak disangka bahwa Naruto menduduki peringkat yang sama dengan Sasuke.
Berapa peringkat Sasuke? Semua orang sudah tahu jawabannya. SATU. Lihatlah, Sasuke hanya menganggapnya hal yang biasa saja. ‘Jelas biasa bagi orang secerdas dia’
kalimat itu yang terlontar dari bibir orang-orang, termasuk Sakura.
Tentunya dengan hasil itu, Naruto tidaklah menang. Tapi tentu hal yang salah jika
kita berkesimpulan bahwa Naruto kalah. Ohhh tidak, mereka berdua sama dalam
peringkat.
Kuliah dan karier sudah terlewati dengan hasil yang sempurna. Lulus dengan IPK
4. Karier meloncat dengan kenaikan yang mengagumkan.
Memang ini mungkin yang namanya jodoh, mereka berdua masih bersama dalam
jenjang waktu yang sangat lama.
Sampai suatu hari, Naruto tidak melihat suatu kebahagian pun dari mata Sasuke.
Mata redup yang membuat sedih orang-orang di sampingnya.
Bukankah hidup Sasuke sempurna? Kenapa dia tidak bahagia?
Rasa penasaran itu muncul dan tak terbendungkan lagi untuk menumpahkan 1
pertanyaan yang telah Ihrom simpan bahkan sejak Ihrom masih mengompol di
ranjang tempat tidurnya.
Lingkaran hijau milik Sasuke menyala. Kita
pasti tahu apa lingkaran itu karena hampir tiap hari kita menggunakannya bukan?
Naruto : Bagaimana
kabarmu, ‘musuh’ tak tergapaiku? :D
Sasuke : begitulah.
Naruto : kau
baik-baik saja bukan?
Sasuke :
Naruto : kamu ngetik
apaan? Kok nggak ada hurufnya? Wah, apa mataku yang tidak
bisa melihat tulisan
sang pangeran ya :D
Sasuke :
Naruto : kau tidak
lagi sakit kan?
Sasuke : tidak
Naruto : jika ada yang kamu ingin bagikan, permen juga boleh.
Aku akan siap dengan
tulus ikhlas menerimanya. :D
Sudah setengah jam kursor dalam komputer hanya berkedip-kedip, tak ada huruf
yang keluar sebagai balasan dari gurauan Ihrom tadi.
‘Kau tahu Naruto mengapa aku selalu menang darimu dalam
segala ujian?. Mungkin kau akan menjawab sama seperti orang lain. Karena otakku
cerdas dan brilian?
Itu hanya kesimpulan yang dibuat mereka untuk membuat itu
rasional, karena aku cerdas maka aku akan selalu menang.
Hal yang akan kuceritakn ini, tidak pernah ku ceritakan pada
siapapun. Hanya pada kau Naruto, ‘musuh’ setiaku. Kau yang menunjukan wajah
ceriamu itu.
Mungkin ini akan terdengar aneh, aku menguasai jurus izanagi.
Suatu jurus yang mampu memperbaiki ‘takdir’. Atau dengan kata lain, aku bisa
memutar kembali waktu masa lalu.
Dan itulah mengapa aku tetap menjadi nomor satu dalam ujian
nasional kita dulu meskipun aku tidak pernah sekalipun mengulang dan membaca
buku-buku yang telah sukarela ibu guru berikan pada murid-murid tercintanya itu.
Bukankah sekarang menjadi masuk akal di otakmu? Aku nomor satu
karena aku menjalani ujian nasional, dan setelah saya tahu semua jawaban
benarnya, saya hanya perlu menggunakan jurus izanagi itu dan kembali sebelum
masa ujian nasional itu.
Maka bagaimana aku bisa tidak sempurna menjawab semua soal itu
kalau aku sendiri sudah tahu jawaban yang benar dari ‘masa depan’ yang kujalani.
Aku tidak menggunakan jurus terlarang ini hanya satu kali atau dua
kali. Mungkin pada awalnya takut untuk menggunakannya, tapi bagi diriku yang
dulu sebutan jurus terlarang itu terlalu berlebihan karena tidak ada ‘efek
samping’ apapun.
Aku lebih sering menggunakannya, selalu menggunakannya. Dimasa
kuliah, ujian, bekerja semua terlihat dapat ku raih dengan gemilang. Bagaimana
tidak? Aku hanya perlu menggunakan izanagi lagi untuk memperbaiki kesalahan
sekecil apapun itu. Tidak sulit kan?
Maka hidupku sempurna sudah. Hidup tanpa ada kesalahan yang ku
perbuat.
Naruto, musuh ku yang paling setia. Orang-orang mungkin
menyimpulkan bahwa selama ini aku yang menang, dan kau yang kalah. Kau pun
berpikiran seperti itu bukan?
Tapi nyatanya tidak, kau yang menang. Dan aku kalah telak.
Apakah aku tidak melakukan kesalahan sedikitpun itu adalah
kesempurnaan? Nyatanya TIDAK!. Justru kesalahan terbesarku adalah karena aku
tidak mengizinkan kesalahan sedikitpun menyapaku.
Kesalahan yang bagi sebagian besar orang dan aku adalah momok
menakutkan. Ternyata memberikan pelajaran yang begitu berharga pada mereka yang
dijumpainya. Aku lihat itu ada di dirimu. Kau memang melakukan kesalahan, dan
kau memperbaikinya dengan terus menerus menatap masa depan dengan mantap.
Sedangkan aku? Justru pergi ke masa lalu.
Hari ini, kesedihanku sudah tidak bisa ku bendung lagi. sempurna
sudah kesedihanku karena mengejar hidup yang ‘sangat’ sempurna.
Aku capek Naruto, capek. Aku tidak tahu apakah 5 menit kedepan aku
akan memutar waktu lagi ke waktu sekarang hanya untuk memperbaiki ejaan penulisanku
ini?
Kau menang, aku kalah!
Sekarang aku tahu, mengapa izanagi itu menyandang gelar jurus
terlarang’
Naruto : ‘Lanjutkan lah hidupmu, aku tidak tahu bagaimana
sebuah kesempurnaan justru tidak membawa ketidaksempurnaan hidup. Jujur aku
tidak tahu. Tapi aku pernah mendengar pepatah lama.
Jika matahari adalah kesenangan, dan hujan adalah kesedihan. Maka
kita butuh keduanya untuk menikmati indahnya pelangi.
Aku, ‘musuh’mu ini, mulai hari ini, akan menjadi musuh terbesarmu
(baca-sahabat terbaik).
Kita lanjutkan hidupmu, tanpa harus takut kesalahan menimpamu.
Semongot musihku, aku selalu mengawasimu :D











