Kamis, 26 Desember 2013

Jurus Terlarang : Izanagi


Sebuah kata yang berasal dari bahasa jepang, (mungkin karena tidak terdapat konsonan yang saling bergandengan). Kata itu muncul pertama kali dalam sebuah anime dari negeri sakura tersebut. Jurus terlarang yang dimiliki oleh clan uchiha dari desa konoha.

Di suatu desa yang permai, hidup seorang anak yang cerdas, brilian dan rupawan dari suatu clan di desanya (clan merupakan suatu perkumpulan tertentu yang biasanya berdasarkan keturunannya. Contoh realnya adalah bangsa Arab di masa Jahiliyah). Dia cerdas karena tidak pernah ada celah dalam setiap mengerjakan soal ujiannya. Jangan salah, anak tersebut memang masihlah berumur anak-anak. Sasuke, begitulah teman-temannya menggunakan kata itu untuk menyapa si anak cerdas.

Kalender bulan menampilkan sebuah angka dan tulisan yang telah dilingkari dengan spidol warna merah menyala, 28 April 2014 ujian nasional.

Lain orang, lain pula nasibnya. Lain Sasuke, lain juga dengan Naruto. Naruto masih agak ‘kurang’ dalam tingkat kecerdasan. Setidaknya itulah anggapan masyarakat kepada mereka berdua.

Mungkin untuk seorang yang berhati lemah, sebuah ejekan itu serasa membuat hati ditimpuk dengan sepatu kayu yang amat keras. Sakit, sakit sekali. Tapi bukan Naruto namanya jika ia tidak menghadapi dengan ‘kekanak-kanakan’. Bukannya jatuh terpuruk akibat cibiran, anak ini justru semakin bersemangat untuk meraih setidaknya 10 besar di sekolahnya.

Malam itu, bintang bertaburan mengelilingi sinar purnama yang cahayanya begitu sempurna. Kendaraan lalu lalang membuat sebuah goresan sinar yang selalu menyenangkan di mata Naruto. Naruto mengatakan niatnya kepada Sasuke via chatting.

Naruto  : Kamu pasti lagi belajar ya :P
Sasuke  : Enggak tuh, lagi tiduran saja.
Naruto  : wah bohong, masak orang sejenius kamu nggak pernah belajar?
Sasuke  : :P
Sakura  : eh ini lagi ngobrolin apa si, aku jadi bingung -_-
Naruto  : aku mau ngomong sesuatu,  mumpung ada Sakura juga.
Sakura  : apaan?
Sasuke  : apaan?
Naruto  : Sasuke, aku akan mengalahkanmu, tak peduli sejenius apa pun kamu. Aku
akan jadi nomor satu UN di kelas. Sasuke, kau jadi saksinya. Syah?
Sakura  : dari peringkat 39?
Naruto  : !@!#@$#$$^% :@

Sebuah ikrar telah diucapkan secara syah dengan saksi seorang anak perempuan berkepang dua.

Waktu masih menyisakan 2 bulan sebelum ujian nasional dimulai. Ikat kepala sudah menepel di jidat Naruto. Mati-matian ia berusaha. Sedangkan Sasuke? Ia hanya duduk santai sambil memainkan game tanaman melawan zombie dari laptopnya. Sungguh pemandangan yang kontras.

Kata orang, waktu itu terasa lama ketika kita menunggu, tapi akan terasa begitu cepat ketika kita menikmatinya. Anak ini tidak begitu memahami maksud dari kalimat itu. Tapi, 2 bulan memang benar-benar waktu yang sangat singkat bagi Naruto untuk belajar. Dan hari pertempuran ‘’hidup dan mati’ itu pun akhirnya tiba.

Ruangan kelas hening dan sunyi senyap. Mungkin lebih pas dengan sebutan kuburan daripada suatu ruangan yang diisi oleh puluhan murid. Tentu bukan karena pengawasnya ‘killer’ kemudian semua siswa takut dan tidak ada menyontek. Sebuah tradisi dan kepercayaan yang begitu kental dari desa kecil ini. ‘lebih baik sedikit daripada tidak jujur’. Tradisi ini terus menerus dipegang teguh meski desa-desa yang lain malah menganggap menyontek itu adalah sesuatu yang lumrah-lumrah saja.


Semua siswa keluar dari ruangan, ada yang memasang sedih, cemas, tegang bahkan tertawa. Tidak bisa dipahami dengan jelas apakah itu tawa karena memang senang, atau justru tawa yang karena terlalu amat sedih. Bukankah kita justru akan menangis bila kita teramat bahagia? Barangkali berlaku sebaliknya juga.

Dan seperti Naruto biasanya, ia tetap memasang wajah ceria khas miliknya. Sasuke? Ia hanya tenang-tenang saja.

Hasil ujian telah diumumkan di papan informasi. Dengan harap-harap cemas, Naruto menaruh jarinya untuk menelusuri diurutan mana namanya berada. Jarinya digerakan dengan jalur yang berlawanan dari yang lainnya. Rute perjalanan telunjuknya justru dari bawah ke atas. Membutuhkan waktu yang lama sekali bagi dirinya untuk menemukan nama pendek kebanggaannya. Tentu saja lama, karena tidak disangka bahwa Naruto menduduki peringkat yang sama dengan Sasuke.  Berapa peringkat Sasuke? Semua orang sudah tahu jawabannya. SATU. Lihatlah, Sasuke hanya menganggapnya hal yang biasa saja. ‘Jelas biasa bagi orang secerdas dia’ kalimat itu yang terlontar dari bibir orang-orang, termasuk Sakura.

Tentunya dengan hasil itu, Naruto tidaklah menang. Tapi tentu hal yang salah jika kita berkesimpulan bahwa Naruto kalah. Ohhh tidak, mereka berdua sama dalam peringkat.

Kuliah dan karier sudah terlewati dengan hasil yang sempurna. Lulus dengan IPK 4.  Karier meloncat dengan kenaikan yang mengagumkan.

Memang ini mungkin yang namanya jodoh, mereka berdua masih bersama dalam jenjang waktu yang sangat lama.

Sampai suatu hari, Naruto tidak melihat suatu kebahagian pun dari mata Sasuke. Mata redup yang membuat sedih orang-orang di sampingnya.

Bukankah hidup Sasuke sempurna? Kenapa dia tidak bahagia?

Rasa penasaran itu muncul dan tak terbendungkan lagi untuk menumpahkan 1 pertanyaan yang telah Ihrom simpan bahkan sejak Ihrom masih mengompol di ranjang tempat tidurnya.

Lingkaran hijau milik Sasuke menyala. Kita pasti tahu apa lingkaran itu karena hampir tiap hari kita menggunakannya bukan?

Naruto  : Bagaimana kabarmu, ‘musuh’ tak tergapaiku? :D
Sasuke  : begitulah.
Naruto  : kau baik-baik saja bukan?
Sasuke  :
Naruto  : kamu ngetik apaan? Kok nggak ada hurufnya? Wah, apa mataku yang tidak
bisa melihat tulisan sang pangeran ya :D
Sasuke  :
Naruto  : kau tidak lagi sakit kan?
Sasuke  : tidak
Naruto  : jika ada yang kamu ingin bagikan, permen juga boleh. Aku akan siap dengan
tulus ikhlas menerimanya. :D

Sudah setengah jam kursor dalam komputer hanya berkedip-kedip, tak ada huruf yang keluar sebagai balasan dari gurauan Ihrom tadi.

‘Kau tahu Naruto mengapa aku selalu menang darimu  dalam segala ujian?. Mungkin kau akan menjawab sama seperti orang lain. Karena otakku cerdas dan brilian?

Itu hanya kesimpulan yang dibuat mereka untuk membuat itu rasional, karena aku cerdas maka aku akan selalu menang.

Hal yang akan kuceritakn ini, tidak pernah ku ceritakan pada siapapun. Hanya pada kau Naruto, ‘musuh’ setiaku. Kau yang menunjukan wajah ceriamu itu.

Mungkin ini akan terdengar aneh, aku menguasai jurus izanagi. Suatu jurus yang mampu memperbaiki ‘takdir’. Atau dengan kata lain, aku bisa memutar kembali waktu masa lalu.

Dan itulah mengapa aku tetap menjadi nomor satu dalam ujian nasional kita dulu meskipun aku tidak pernah sekalipun mengulang dan membaca buku-buku yang telah sukarela ibu guru berikan pada murid-murid tercintanya itu.

Bukankah sekarang menjadi masuk akal di otakmu? Aku nomor satu karena aku menjalani ujian nasional, dan setelah saya tahu semua jawaban benarnya, saya hanya perlu menggunakan jurus izanagi itu dan kembali sebelum masa ujian nasional itu.

Maka bagaimana aku bisa tidak sempurna menjawab semua soal itu kalau aku sendiri sudah tahu jawaban yang benar dari ‘masa depan’ yang kujalani.

Aku tidak menggunakan jurus terlarang ini hanya satu kali atau dua kali. Mungkin pada awalnya takut untuk menggunakannya, tapi bagi diriku yang dulu sebutan jurus terlarang itu terlalu berlebihan karena tidak ada ‘efek samping’ apapun.

Aku lebih sering menggunakannya, selalu menggunakannya. Dimasa kuliah, ujian, bekerja semua terlihat dapat ku raih dengan gemilang. Bagaimana tidak? Aku hanya perlu menggunakan izanagi lagi untuk memperbaiki kesalahan sekecil apapun itu. Tidak sulit kan?

Maka hidupku sempurna sudah. Hidup tanpa ada kesalahan yang ku perbuat.

Naruto, musuh ku yang paling setia. Orang-orang mungkin menyimpulkan bahwa selama ini aku yang menang, dan kau yang kalah. Kau pun berpikiran seperti itu bukan?

Tapi nyatanya tidak, kau yang menang. Dan aku kalah telak.

Apakah aku tidak melakukan kesalahan sedikitpun itu adalah kesempurnaan? Nyatanya TIDAK!. Justru kesalahan terbesarku adalah karena aku tidak mengizinkan kesalahan sedikitpun menyapaku.

Kesalahan yang bagi sebagian besar orang dan aku adalah momok menakutkan. Ternyata memberikan pelajaran yang begitu berharga pada mereka yang dijumpainya. Aku lihat itu ada di dirimu. Kau memang melakukan kesalahan, dan kau memperbaikinya dengan terus menerus menatap masa depan dengan mantap. Sedangkan aku? Justru pergi ke masa lalu.

Hari ini, kesedihanku sudah tidak bisa ku bendung lagi. sempurna sudah kesedihanku karena mengejar hidup yang ‘sangat’ sempurna.

Aku capek Naruto, capek. Aku tidak tahu apakah 5 menit kedepan aku akan memutar waktu lagi ke waktu sekarang hanya untuk memperbaiki ejaan penulisanku ini?

Kau menang, aku kalah!

Sekarang aku tahu, mengapa izanagi itu menyandang gelar jurus terlarang’

Naruto  : ‘Lanjutkan lah hidupmu, aku tidak tahu bagaimana sebuah kesempurnaan justru tidak membawa ketidaksempurnaan hidup. Jujur aku tidak tahu. Tapi aku pernah mendengar pepatah lama.

Jika matahari adalah kesenangan, dan hujan adalah kesedihan. Maka kita butuh keduanya untuk menikmati indahnya pelangi.

Aku, ‘musuh’mu ini, mulai hari ini, akan menjadi musuh terbesarmu (baca-sahabat terbaik).

Kita lanjutkan hidupmu, tanpa harus takut kesalahan menimpamu.
Semongot musihku, aku selalu mengawasimu :D
#eh salah nulis, semangat musuhku :P


Rabu, 25 Desember 2013

Obrolan dalam Kosan

Obrolan dalam Kosan

Jam weker di samping tempat tidur berdering dengan kencangnya. Ia berusaha untuk meluarkan seluruh tenaganya dalam menjalankan suatu kewajiban hariannya, membangunkan si pemilik kosan. Tapi apa daya, mungkin inilah yang dinamakan ala bisa karena terbiasa. Meskipun suara dering jam masih terdengar sampai radius 20 meter. Tidak mengubah sedikitpun posisi si penghuni kosan dari tempat pembaringan.

Kipas angin dengan setia membuat siapa saja merasakan kesejukan di balik hawa gerah yang mendera kamar kos berukuran 3 x 3 meter ini.

Sebuah meja kecil, berdiri sempoyongan di sudut kamar menahan layar kecil yang memiliki puluhan tombol serta tumpukan buku yang entah mengapa berserakan sana sini tidak tertata.

Dan hari itu, ketika si pemilik kamar tidak ada di kamar. Sebuah handphone yang tergeletak di dalam sebuah kasur mulai membuka mata. Menengok seluruh penjuru kamar dengan tatapan yang heran. Ada jam weker yang bermuka sedih, kipas yang terlihat kelelahan, buku-buku kuliah yang saling berargumen berebut tempat di meja, serta meja kecil yang keadaannya sudah membungkuk persis seperti kakek tua yang sudah tidak mampu lagi menopang tegak tubuh kurusnya.

Si handphone yang biasa dipanggil handy ini mencoba menyapa kawan lamanya, jam weker. Ada apakah gerangan jam weker itu menangis? Setelah lama menumpahkan segala isinya, hingga muncul pada suatu kalimat kesimpulan yang dari tadi berusaha ia utarakan. ‘sepertinya saya sudah tidak lagi mampu menjaga tuanku dari bangun pagi-pagi, sepertinya sudah tidak ada lagi manfaat aku disini. Tiap pagi ku berteriak-teriak, namun tuan menggubrisnya pun tidak, bahkan ketika tuan terbangun. Dia langsung tega ‘membunuhku’ dan kembali ke tempat pembaringan. Hingga ia sering terlambat dalam mencari karunia Tuhannya. Si Tuan berubah sejak dia menyukai ‘seseorang’. Dia mengucapkan semua kalimat itu dengan suara terisak. Handy hanya bisa menaruh simpati kepada kawan lamanya itu. 

Rasa penasaran itu muncul ketika melihat kipas angin yang merasa kelelahan. Konon katanya si putri kipas ini merasa kelelahan akibat si tuannya sering menghidupkannya dan lupa mematikannya ketika sudah tidak terpakai. Bayangkan saja ketika kita bekerja keras namun kerja keras kita tidak mendatangkan manfaat baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Sungguh wajah si kipas sekarang lagi sendu meski tetap memancarkan kesan kuat untuk bekerja selamanya.

Buku-buku itu juga menangis menahan kerinduan dengan keluarganya. Si Tuan kosan tega memisahkan ‘anggota keluarga buku’ itu dengan membiarkan mereka berserakan, terpisah satu sama lain. Bahkan tak jarang. Si Bapak Buku dilempar begitu saja karena tuan berusaha meraih ‘seseorang’ yang telah memanggilnya.

Begitu seterusnya dan seterusnya kesedihan datang dari seluruh perabotan kosan. Namun, ada satu benda yang di dalam kosan yang penampilannya bisa di bilang paling mengenaskan dibanding yang lainnya.

Si Handy mendekati penghuni terakhir kosan yang sejak dari tadi diam tergugu di dalam lemari. Ia memiliki coretan yang menarik serta terdapat sebuah pita tipis sebagai pembatas untuk tuannya. Alqur’an.

Suara tangis yang sejak dari tadi tertahan akhirnya meledak juga. Menyisakan sebuah kesedihan bagi siapapun yang bisa mendengarnya. Bahkan karena tangisannya itu, pak buku, putri kipas dan jam weker ikut menangis sejadi-jadinya.
‘Dulu aku paling sering di jamah ketika tuanku masih kecil, ketika tuan sudah besar, aku disimpan dalam lemari dan mulai jarang lagi di baca kembali. Hingga seluruh tubuhku yang dulunya bersih bercahaya mulai tampak kusam. Apalagi sejak si tuan mulai mencintai ‘suatu hal’. Aku jadi tidak pernah di sentuh tuanku sedetik waktu pun juga. Atau mungkin, tuanku sekarang sudah lupa kapan terakhir perjumpaan mesra antara kita terlaksana. Ohhhh, kalian semua. Adakah yang lebih menyakitkan ketika kita berada di suatu tempat, namun sama sekali kita tidak dianggap ada? Bahkan di sapa pun tidak, adakah yang lebih menyakitkan dari itu?

Wahai temanku, sungguh tidak ada yang lebih menyakitkan dari itu. Maka, semua buku, putri kipas dan jam weker berusaha menghibur dirinya yang bercucuran air mata kesedihan tak terbilang.

Demi melihat kesedihan itu, tak sengaja air mata Handy berlinang. Dalam hatinya sekarang timbul kemarahan yang teramat sangat kepada ‘seseorang’ itu yang telah membuat teman-temannya mengalami kesedihan seperti itu.

‘Wahai kawan, siapakah ‘seseorang’ itu?’ tanya Handy dengan uap muncul dari atas kepalanya. Namun, bukannya nama yang diberikan. Teman-temannya justru menyuruh Handy menemui sang pak Tua kaca, mereka bilang Handy akan menemui ‘seseorang’ itu nantinya.

Dia telah berdiri tepat di depan ‘pak tua’, ‘Pak Tua Kaca, siapakah ‘seseorang’ itu pak tua?’. Pak Tua yang terkenal bijak memberikan petunjuk bahwa ‘seseorang’ itu tepat berada di depan Handy dan sedang memandanganya dengan tatapan yang sama marahnya.

Si Handy kaget bukan main dan seketika itu menangis sejadi-jadinya dan merasa bersalah sekali terhadap teman-temannya. Tepat didepannya nampak sosok yang ia sangat mengenalnya. Tidak lain dan tidak salah lagi. ‘seseorang ‘ itu adalah dirinya sendiri, Handy.

Dalam tangis laranya, bayangan masa lalu seakan saling berebut untuk membantu Handy mengenang apa yang telah dilewatinya.

Jam weker itu sudah tidak mampu lagi karena tuannya terlalu sibuk bercengkerama dengan Handy sampai larut malam. Si putri kipas merasa kelelahan karena tuannya lupa mengistirahatkannya karena sedang asyik berduaan dengan si Handy. Keluarga buku terpisah dan dibuang begitu saja karena si pemilik sibuk menghubungkan Handy dengan teman-teman tuannya di seberang sana. Dan Alqur’an sudah menghilang dari ingatan tuan karena yang ada di pikiran tuannya hanyalah panggilan dan penantian ‘pesan’ dari Handy. Handy ada dimanapun tuannya berada. Handy telah menjadi ‘kekasih’ tuannya sekarang.

Sayang, si Handy tidak akan pernah bisa ‘menikah’ meski selalu menempel dalam hari dan hati si pemilik kosan.

Adakah yang lebih menyakitkan dibanding mengetahui diri kita sendirilah yang ternyata menjadi penyebab tersakitinya orang-orang tersayang disekitar kita?

ENDING



Kalian pernah menonton film? Bagian mana yang paling Anda sukai,? Sebagian dari kita tentu akan menjawab endingnya.



Kalian pernah menonton the Avenger? Bagaimana kalau kalian tahu dengan jelas bahwa hulk akan bekerja sama dengan pahlawan super yang lain di bagian akhirnya? Apakah nontonnya masih seseru kalian ketika belum tahu endingnya? Mungkin tidak.


Kalian pernah nonton kungfu panda? Bagaimana kalau kalian tahu dengan jelas bahwa dragon scroll ternyata hanya gulungan kaca dan tai-lung kalah dengan po dengan jurus kuncian jari wu xi bahkan sebelum kalian menonton filmnya,? Apakah nontonnya masih seseru kalian ketika belum tahu endingnya? Mungkin tidak.


Kalian pernah nonton you are the apple of my eye? Bagaimana kalau kalian tahu dengan jelas bahwa shen chia yi ternyata menikah bukan dengan ‘masa remajanya’ ko ching teng? Mungkin tidak akan segreget lagi ketika bukan kita sendiri yang menontonnya dan tahu jalan ceritanya sendiri tanpa diberi tahu orang lain.


Kalian pernah membaca novel yang kalian sudah lebih dulu menonton filmnya dengan cerita yang sama dan judul yang sama? Bagaimanakah rasanya? Apakah berkesan? Mungkin tidak.


Kalian pernah menonton sepak bola dimana santi cazorla menjadi pemain di dalamnya? Bagaimana jika kalian sudah tahu hasil pertandiangannya, siapa yang bakal menang, siapa yang bakal menjebol gawang, bahkan sebelum pertandingan itu diselenggarakan? Apakah kalian akan menikmati sensasi menontonnya? Mungkin tidak.


Oh Bunda, hidup ini ternyata terasa lebih berkesan dengan kita tidak tahu hasil akhirnya sebuah cerita.


Bila kita sudah tahu akhirnya, perasaan berkesan itu akan berkurang, bahkan bisa jadi hanya ada rasa hambar.


Begitulah hidup, kita hanya perlu ‘mengikuti’ jalan cerita, jalan pertandingan dan jalan kehidupan.


Kita tidak perlu risau akan seperti apa ending dari ‘film’ kita. Serahkan lah pada Maha Pembuat Skenario yang terbaik yang dapat menyusun cerita lebih indah daripada novel yang kalian baca di samping jendela, lebih berwarna daripada menonton film dalam layar kaca, dan jauh lebih mendebarkan dari menonton pertandiangan sepak bola di tengah malam.


Kita hanya perlu percaya dan berusaha semaksimal mungkin.


Jika hidup kita belum berakhir bahagia, itu berarti belum ending cerita kita. hanya saja ‘aktor’ yang ada di dalamnya sering kali mengakhiri peran mereka dikala dihadiahi segment sedih, sulit dan bencana. Mereka menyerah, putus asa, dan segala perasaan negatif lainnya kepada Sang Sutradara. Sehingga mereka sendiri lupa untuk terus melanjutkan peran yang ia mainkan sampai meraih sebuah cerita happy ending yang begitu mengharukan.


We just need to trust, ‘Allah always give us the best scenario’ 



NB: kan nggak lucu kalau kita tahu jodoh pendamping kita pas waktu rambut masih dikepang dua 

Jadilah Setetes Madu

-Jadilah setetes madu-

abad 21 dikenal sebagai abad kemajuan peradaban manusia. sekarang bisa dengan mudah ditemukan mobil, motor, pesawat, kapal dan berbagai aplikasi iptek lain yang diharapkan mampu menjawab problematika manusia saat ini. namun, sayangnya di zaman ini, keberadaan 'manusia penggenggam madu' sudah tidak lagi mudah ditemukan semudah menemukan handphone di pasaran.

siapakah 'manusia penggenggam madu' tersebut?

siapakah manusia penggenggam madu tersebut?

mungkin sedikit dari cerita ini akan mampu menjawabnya.

Tersebutlah pada zaman dahulu kala, di suatu tempat dekat fakultas teknik universitas gadjah mada berdirilah sebuah kerajaan kecil yang berkecukupan baik dari segi ekonomi, teknologi maupun budaya. kerajaan tersebut diberi nama, kerajaan Pogung.

dengan daerah kekuasaan yang tidak begitu luas. membuat sang raja yang bernama Amri tidak begitu kesulitan untuk mengatur dan mengayomi rakyatnya. hingga pada suatu hari, kerajaan tetangga yang bernama kerajaan Gandok diserang oleh sebuah penyakit yang hanya mampu disembuhkan dengan air madu.

jalinan persaudaraan antara kerajaan pogung dan kerajaan gandok memang begitu kuat. Akhirnya Amri memutuskan untuk mengumpulkan madu dari rakyat-rakyatnya. setiap orang harus menyumbangkan madu yang mereka punya sebanyak 1 gelas dan diituangkan ke dalam sebuah kuali besar tertutup yang mampu menampung seluruh madu yang akan disumbangkan kerajaan Gandok tersebut.

teknologi yang mereka terapkan untuk mengumpulkan madu cukup unik. setiap rumah di fasilitasi dengan suatu pipa yang terhubung ke dalam kuali utama. jadi, rakyat tidak perlu susah-susah untuk mengumpulkannya. cukup tuangkan segelas madu yang mereka sumbangkan dan dengan sendirinya akan mengalir ke kuali utama.

pada saat itu, tersebutlah seorang anak muda yang bernama Ihrom. sebelum ia benar-benar menuangkan madunya ke dalam pipa, ia sempat berfikir. 'Bagaimana kalau aku ganti madu ini dengan air putih saja, toh tidak ada yang tahu dan tidak apalah kalau aku memberi air dikala yang lain memberi madu. tidak akan begitu jelas nampak bedanya'. akhirnya, Ihrom pun menuangkan segelas air putih tadi.

hari pemberian sumbangan pun tiba, sebelum benar-benar diserahkan kepada rakyat Gandok, sang raja menyempatkan diri untuk mengecek seberapa banyak madu yang terkumpul.

Raja tercengang bukan kepalang, bukan karena kagum madu yang terkumpul sangat banyak. tapi.....

semuanya berisi dengan air putih. tidak ada setetespun madu yang ada di dalamnya.

ternyata, yang berpikir seperti Ihrom tidak hanya Ihrom seorang, melainkan seluruh rakyat Pogung berpikir hal yang sama. sehingga yang terkumpul bukanlah kuali penuh dengan madu, karena tiap-tiap rakyat semuanya menuangkan segelas air putih, -bukan segelas, bahkan setetes madu.

.end

so?
siapa kah yang disebut sebagai manusia penggenggam madu?
yaitu mereka yang tetap berbuat baik dan segera menyegerakannya. mereka yang berusaha memberikan kebaikan meskipun dikala orang lain tidak melakukannya.

untukmu, untukku, dan untuk kita semua.
maukah kita jadi manusia penggenggam madu? 







Listrik Mati

terima kasih buat teman baru ku yang tidak mau ku panggil mba, katanya berasa tua. sampean mengingatkanku untuk melanjutkan sesuatu 

oh ya mba, mumpung kau mengingatkan itu,
mungkin aku akan bercerita sedikit tentang kata 'lanjut' itu mba.

mentari sore mulai berpamitan guna berganti bulan, bunga-bunga mulai menolehkan wajah manisnya kearah ufuk barat. kelelawar terbang kesana-kemari seakan ingin memberikan tanda, tanda yang masih digunakan oleh orang tua jaman dulu-dulu, tanda untuk pulang.

tapi tidak bagi Ihrom, sore itu. sore dimana tugas terasa menumpuk dekat di depan pelupuk matanya. membuatnya 'buta'. buta akan waktu. ya, Ihrom sebagai mahasiswa baru tidak sadar, tugas ospeknya telah ia kerjakan hingga jam dinding membunyikan suara khasnya sebanyak 10 kali. dan panggilan ini benar-benar 'mengharuskannya' untuk pulang.

gunting, kertas, senter dan segala peralatan tadi segera ia masukkan ke tas ransel warna hitam miliknya. tidak perlu waktu yang lama, maka ia melangkahkan kakinya ke tanah guna menuju tempat kosan barunya di gang arwana II yang berjarak kurang lebih 3km dari spot tadi ia 'lepas landas'

'ceeep'
listrik mati menyelimuti kawasan jogjakarta.
bulan yang belum waktunya memelototi bumi menambah aura kegelapan yang ada. membuat seketika langkahnya terhenti.
Ihrom tidak bisa melihat.

dan apakah yang akan diperbuatnya?
apakah dia akan sms teman-temannya untuk menjemputnya dikala temannya tidak tahu dimana tepatnya lokasi si Ihrom (maklum lah, mahasiswa baru belum hafal jalan)? tidak, bukan itu.

Ihrom hanya mengambil senter di ranselnya, senter yang hanya memberikan jarak pandang 10 meter di depannya. dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.

'gang arwana II'
perlahan-lahan ia memasuki gang tersebut. ada yang terasa aneh di hatinya. rumahnya tidak sama dengan yang ia lihat pagi hari tadi. apakah itu artinya para penghuni gang langsung merenovasi rumah mereka saat Ihrom mengerjakan tugas ospeknya?
'impossible'

Ihrom kembali ke ujung gang tadi dan sekali lagi melihat papan nama gang dengan lebih teliti. tertulis, 'gang arwana III'

akhirnya Ihrom tiba di kosan gang arwana II dengan selamat. tanpa pikir panjang ia merebahkan dirinya ke dalam ranjang empuk di kamarnya. dan sekali lagi, malam ini hening oleh mimpi-mimpi para mahasiswa baru yang kecapean.

end

pernah salah satu dari kita mengalami hal demikian?
tentunya saya tidak tahu, karena ini hanyalah tulisan fiksi belaka. karakter dan tempat kejadian hanyalah imajinasi penulis saja, jika ada kesamaan, harap maklum 
jadi ngomong apaan sih 

kadang kita dihadapkan dalam suatu keadaan 'listrik di sekitar kita mati total'.
keadaan dimana kita benar-benar bingung mau melakukan apa
bingung mau pilih yang mana
bingung mau melakukannya atau tidak
dan bahkan sekarang banyak kebingungan yang nampaknya telah berevolusi menjadi sebuah kata. kegalauan mereka menyebutnya.

dalam kasus tadi
apakah kita akan menunggu listriknya menyala seluruhnya dulu baru berjalan?
apakah kita mau menunggu sesuatu yang bahkan kita belum yakin kapan akan menyalanya?
apakah kita akan menunggu kebingungan itu benar-benar sirna dari pikiran kita baru melakukan sesuatu?

atau kita ambil cahaya seadanya, dan segera melangkah maju?

hidup ini sederhana
jangan menunggu semuanya jadi terang baru jalan
tapi berjalanlah maka yang di depanmu akan menjadi terang
(terlihat oleh mata lho ya, kalau tidak percaya. coba matikan lampu rumah anda seluruhnya. memang si mula-mula gelap, tapi tatap terus, maka akan nampak secercah cahaya yang membuat sekitarnya tidak segelap seperti pertama terlihat)

muncul sebuah pertanyaan, kalau bingung terus aku memilih pilihan dan melakukan yang salah gimana,?

tapi yang jelas, tidak ada yang berubah ketika yang kita lakukan hanya tidak melakukan apa apa bukan?

lagipula dengan salah masuk gang arwana III tadi, Ihrom jadi tidak akan salah lagi kalau memilih jalan pulang.

pilih --> berjalan --> jika mentok (jalan buntu atau salah jalan) --> belok --> putar arah --> paling nggak kita bisa tanya pada orang yang telah kita lewati

sederhana?
selalu sesederhana itu 

so, yuk kita jalan yuk? 

Berenang

Berenang

selamat hari lebaran
minal aidin wal faizin
mari bersalam-salaman
mari bermaaf-maafan

lantunan lirik lagu yang terus terngiang dalam pikiran Ihrom di hari-hari dengan nuansa lebaran ini, tepat setelah sekitar 4 hari berada di kampung halaman, angga, ipung, dan pilus mengajak si Ihrom untuk berenang di kolam pemandian di dekat rumahnya.

Dengan ambisi meninggikan tinggi badan, Ihrom pun langsung mengiyakan ajakan mereka. canda tawa, cerita ini, cerita itu, banyak sekali mereka menceritakan kenangan masa dulu yang terasa begitu indah sekarang.

sinar matahari menerobos melewati hingga tampak paduan warna yang karena ketidakteraturannya membuat takjub mata yang mengamatinya. satu dua pakaian mulai mereka tanggalkan, namun tidak dengan Ihrom.

"ayo sini Rom, cepetan nyemplung, airnya segar banget lho...." seru kedua kawan lamanya itu sambil menarik-narik tangan. reaksi yang terasa gimana-gimana gitu semakin membuat keduanya menjadi-jadi dalam misi penggodaan itu.

"sudah, jangan kau tarik. aku bisa sendiri."
"pyur", bunyi air yang terurai dengan perlahan, Ihrom tidak melompat. ia hanya berani menceburkan diri sambil pegangan sebuah besi di pinggiran kolam.

tak tahan melihat si Ihrom yang hanya di pinggiran, teman-temannya pun akhirnya mengajari bagaimana berenang yang baik dan benar 

dan...... ye, Ihrom pun menguasainya... Ia bahkan menguasai teknik baru, renang gaya batu 

karena di rasa sudah cukup mahir, Ipung dan angga berusaha melemparkan Ihrom ketengah...

byuuuuur......... terdengar suara yang jauh lebih keras di banding suara pertama tadi... rasa tidak siap, membuat Ihrom gelagapan di tengah. ia panik, dan itu justru menambah ke dalamannya dalam ketenggelaman.

"Ihrom, tenang.... kau hanya perlu tenang"
dalam kepungan air itu, ia berusaha menenangkan dirinya. dan yup, seperti hukum archimedes, Ihrom pun mengambang dengan sendirinya.

dengan perlahan-lahan, ia berenang meraih tepian kolam.

"huh huh huh huh" ngos-ngosan di buatnya.
mendengar suara yang amat "merdu", ketiganya justru ketawa riang.

"huhahha huhaaahha huhhaaha" 

.end

seorang ahli perenang pernah berkata bahwa, kebanyakan mereka yang tenggelam di kolam pemandian, sebenarnya bukan karena mereka tidak bisa berenang, tapi karena kepanikan mereka sendirilah yang membuat mereka tenggelam.

sahabatku,
pernah kita merasa bahwa masalah yang kita hadapi begitu besar sampai-sampai kita merasa tidak bisa menghadapinya.

tapi, cobalah kita pikirkan lagi?
Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kita, itu sudah janji-Nya.

lalu mengapa masalah itu terasa beratnya bukan main?
seperti Ihrom renang tadi, masalah kita sebenarnya bukan pada masalah yang ada. tapi pada reaksi yang kita berikan pada masalah tersebut.

ketika kita berenang, tenang. maka akan dengan sendirinya tubuh kita akan terasa lebih renang (mengambang-terangkat oleh gaya hidrostatis). begitu pula dengan masalah di dunia ini, ketika kita tenang, maka jawabannya akan terlihat jelas. namun, ketika kita dilumuri dengan kepanikan, ketakutan, kecemasan, dan ketidakoptimisan dalam menghadapinya, kita hanya akan "tenggelam"

bahkan air pun mengajari kita,
kau aduk-aduk airnya, tidak ada apapun yang bisa diamati,
kau tenangkan airnya, maka kau akan lihat ada makhluk yang Allah berikan beragam kemampuan yang sebagian dari kita tidak menyadarinya.

so, ayok kita berpikiran jernih, oke? 

I_AMBere

Ingat Tujuan

INGAT TUJUAN

"makasih pak....."
seru kedua kakak adik ini kepada supir yang berkenan menyedekahkan bangku depan mobilnya untuk di duduki mereka yang berniat  berjumpa dengan sanak di rumah. waktu masih menunjukan pukul 2 malam, sedangkan jadwal keberangkatan kereta mereka pukul 10 pagi ini.

karena ngantuk yang tidak ketulungan, Ihrom memutuskan adiknya Maula untuk menginap sebuah hotel di dekat stasiun.

pintu kamar langsung dibuka, tanpa pikir panjang mereka langsung merebahkan kedua badan mereka di atas kasur yang begi mereka seperti kasur surga.

rasanya baru sebentar saja si Ihrom terlelap,
'kak, bangun kak, sholat subuh dulu yuk' ajak si adik. dengan berjalan sambil memejamkan mata, si Ihrom terpogoh-pogoh menuju kamar mandi. cuci tangan, ambil air wudhu. kemudian mereka sholat jamaah dengan khusyuk...

duh senengnya punya keluarga seperti itu..... semoga kelak keluargaku bisa seharmonis itu.... aamiin 

entah karena kecapean yang mendera si Ihrom, salam kanan-salam kira, berdoa... ia langsung menjatuhkan tubuhnya diatas sajadah. melihat kelakuan kakaknya yang memang nampak amat kecapean setelah perjalanan panjang itu, si Maula hanya tersenyum manis.

.......

angin semilir, bunyi kicauan burung yang bersaut-sautan seolah mengisyaratkan kepada si pemilik kamar untuk segera bangun dari tidur indahnya. kalendar nampak mencoba untuk mengingatkan bahwa sekarang tanggal 7 agustus 2013.
'ting ting ting ting ting ting ting ting' bunyi sebuah jam kuno yang jika dihitung dari bunyi ting nya, menunjukan bahwa sekarang pukul 8 pagi.

spontan, si Ihrom langsung melompat dari tempat tidurnya, aksennya yang sangat sigap dan cepat mungkin bisa mengalahkan seorang kungfu master yang sering nongol di televisi-televisi asia, namun sayang, tidak ada yang membawa kamera untuk merekam reflek menawan tersebut, barangkali saja jika diupload di youtube, ratingnya bisa mengalahkan video girls new generation, siapalah itu artis yang jadi beken gara-gara narsisnya dulu-dulu 

setelah semua dipersiapkan, "pakaian? oke. bekal? oke. eh ini kan bulan puasa, jadi dia keluarin kembali bekal yang tadinya sudah berada di dalam ransel. uang? oke. dan yang terakhir, rambut? aahhh, lupa sisiran. nahhhh, ini baru oke." nampak gaya rambut yang lebih mirip dengan rambut ayam.

Ihrom tiba di stasiun pukul sembilan, yah ada waktu 1 jam lagi buat menunggu. karena bosan bila hanya duduk-duduk saja, ia memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di sekitar stasiun sembari melepas penat.

tengok kana-tengok kiri-lirik sana-lirik sini. kayak apa? kalian sendiri yang bisa menjawabnya, heheh. ada satu tulisan yang menawan pandangannya, mencuri perhatiannya dan kayaknya tidak bakal merampok isi dompetnya.

"DISKON 99%, ALL ITEM. wuihhhh, aja gile. diskonnya tidak main-main. kita hanya perlu membayar 1% dari harga untuk memboyong barang yang ada.' mulailah perhitungan ekonomi sederhana.

dalam teori ekonomi, seseorang cenderung membeli sesuatu karena banyak hal, dan salah satunya karena perasaan 'mumpung murah'. padahal orang-orang tidak merasa membutuhkannya sekarang.

benar tidaknya teori ini, tanyakan pada pikiran kalian masing-masing, terutama kaum perempuan.

tidak mau kalah dengan perempuan, demi memperjuangkan emansipasi, si Ihrom ikut-ikutan masuk ke dalam memperebutkan gelar kemurahannya.

pilih sana-pilih sini, pegang yang ini, angkat yang itu, bolak-balik, dicoba, dilempar. itulah aktifitas yang kini nampak dalam toko yang tidak besar si ukurannya, hanya 3 hektar.

setelah berhasil mendapat barang yang 'wow' dan membayar di kasir. Ihrom merasa puas bukan kepalang. "men, baju kayak gini murah banget men, wow beruntung banget ni gue'.

taara... ia menengok ke arah jam tangan keren yang baru dibeli tadi, '12.00'. seketika, paras mukanya pucat. kereta berangkat jam 10 dan sekarang sudah jam 12. si Ihrom ketinggalan kereta.!

barang-barang yang dibeli tadi, tidak mampu mengobati sesak di dadanya sekarang. baju dan jam yang tadinya di kagum-kagumi hanya nampak menjadi duri yang menggagalkan perjalanan pulang kampungnya.

sudah tidak ada tiket kereta lagi, persediaan tiket sudah habis bahkan untuk idul fitri tahun depan.

'Ohhh ya, Maula dimana?' otaknya tersadar akan ketidakhadiran adiknya sejak dari tadi.
........

angin semilir, bunyi kicauan burung yang bersaut-sautan seolah mengisyaratkan kepada si pemilik kamar untuk segera bangun dari tidur indahnya. kalendar nampak mencoba untuk mengingatkan bahwa sekarang tanggal 7 agustus 2013.
'ting ting ting ting ting ting ting ting' bunyi sebuah jam kuno yang jika dihitung dari bunyi ting nya, menunjukan bahwa sekarang pukul 8 pagi. dan nampak si Maula yang sejak dari tadi memandangi kakaknya yang tertidur pulas.

'ayoooo dek, kita harus cepat. kita tidak mau ketinggalan kereta. dan ingat, kita tidak usah masih toko diskon 99%'

si adik hanya menggaruk-garuk kepala karena heran dengan kelakuan kakanya, Ihrom.

.end

coba kita kembali lagi ke cerita atas, si Ihrom tadi ke stasiun buat apa?
yupppp, buat perjalanan ke kampung halamannya,

terus apa yang dilakukan Ihrom ketika di stasiun?
ia membeli baju dengan harga murah

apakah ia akhirnya berhasil pulang setelah berbelanja tadi?

itulah kawan, tidak hanya Ihrom, aku, kamu dan kita semua kadang sering terlena akan sesuatu hal sehingga kita melupakan suatu hal yang amat penting yang jadi tujuan kita.

'berbelanja'-dikasih tanda kutip karena maksud dari kata itu bukan menunjukan pekerjaan bertukar uang dengan barang, tapi lebih ke kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan kita-memang boleh, asalkan kita masih tetap ingat dan tidak menyimpang terlalu jauh dari arah yang akan kita tuju.

dalam cerita ini, si Ihrom sendirian. coba kalau kita sisipkan satu atau dua tokoh lagi untuk mendampinginya di stasiun, pasti mereka akan mengikatkan 'jadwal keberangkatan kita'. mungkin mereka akan berkata, 'eh yuk udah bro, keretanya sudah mau berangkat lho' atau dengan sebuah tindakan yang mereka sendiri mempunyai cara masing-masing untuk mengingatkan kita.

itulah guna sahabat, bestfriend . bukan girlfriend atau boyfriend 

jika terasa jalan ini tidak ada arah.
tanyakan kembali kepada hati kita.
untuk apakah aku kesini?
mau kemanakah aku selanjutnya?

untuk apakah aku berada di kota perantauan ini, jauh dari orang tua ini?

so, yuk kita saling mengingatkan tujuan kita disini yuk.... oke?

I_AM

Baju Baru di Hari Raya

Bagaimana kabarnya ni teman-teman?
Sudah H-3 atau min berapa lah terserah, kita mah ngikut para ulama saja. oh ya, liburan sudah dekat ni, sudah pada 'nyandang' (sebuah tradisi tahunan dengan membeli baju baru yang nantinya dikenakan pas hari raya). nyandang adalah bahasa jawa, mungkin dari bahasa-bahasa lain akan berbeda lagi sebutannya.

untuk itu, akan sedikit bercerita tentang perjalanan si Ihrom yang masih berlanjut. sesi kali ini kita akan berfokus yang namanya, 'Baju Baru'

BAJU BARU

rencana mudik yang dulu gagal dengan menaiki keledai (karena terlalu mendengar komentar orang) sekarang disusun kembali. dengan uang yang masih tersisa sekitar 4M. rencana pulang pun disusun dengan lebih matang. Si Ihrom dan Maula berencana pulang kampung dengan menggunakan kereta api.

tiket telah dipesan, 7 agustus jam lah yang tertera di balik karcis, menunjukan waktu keberangkatan mereka besok.

jarak yang begitu jauh dari tempat mereka tinggal sekarang - baca kampung terpencil-pencilnya. mengharuskan kedua kakak adik ini berjalan sore ini untuk tiba di stasiun. dengan menumpang mobil sayur yang kebetulan singgah di desa mereka. akhirnya perjalanan ke kota pun di mulai.

supir, Ihrom dan Maula persis duduk di bangku depan. kadang karena merasa sudah diberi bantuan yang banyak dari si supir, si Ihrom menawari untuk bergantian menyetir, tapi. bukan supir sejati namanya kalau baru sebentar saja sudah loyo.

"nanti kalau saya merasa capek, saya akan bilang mas' kata lembut nan bijaksana yang bahkan mungkin mengalahkan suara putra mahkota 

'Lihat kak, itu disana' Maula menunjuk banyak anak-anak yang keluar dari lapak baju musiman edisi spesial lebaran.

melihat fenomena itu, Ihrom teringat dengan masa kecil dulu di kampungnya.

akhirnya, cerita mengenang hari imut-imut itu pun dimulai sembari untuk memangkas rasa bosan di perjalanan.

hari itu, hari hari dimana Ihrom merasakan beban hidup. anak kecil ini bersiap-siap berburu pakaian baru. kacamata hitam layaknya orang tunanetra dipersiapkan. karena di rasa ibunya masih sibuk, dan pastinya terlalu lama bagi seorang anak kecil untuk menunggu waktu senja tiba. Ihrom memutuskan untuk mencara 'harta karunnya' sendiri.

setibanya di pasar, ilmu pilah-pilih langsung diaplikasikan. dan ternyata benar, bakat pilah-pilih dari pamannya juga mengalir dalam darahnya. akhirnya setelah berabad-abad, baju gamis dengan warna merah tua di pilihnya.

tak sabar, ia menunjukan hasil perburuannya kepada ibunya. baju barunya pun di ambil.

'taaara.....' 
semua orang kaget melihat apa yang ada di tangan mungil itu. bukan ekspresi itu yang Ihrom harapkan, kemudian ia pun memandang sendiri apa yang mereka kagetkan.

'uwwwwwaaaa, kok warnanya jadi berubah, ibu tidak adek belinya bukan warna ini bu, huuuuuuu ,' kacamata hitam itu masih ada, menempel di balik jidat yang sekarang berwarna merah.

'apakah warna ini yang kau lihat tadi sayang' ibunya memasangkan kembali kacamata ke depan matanya.

'iyaaaa'
pasang kacamata, lepas, pasang, lepas, dan memang warnanya nampak merah ketika mengenakan penutup mata berwana hitam itu.
dan semua orang tertawa 

akhirnya, ia mengenakannya di waktu hari raya tiba, sempat ada perasaan resah bila nantinya diejek oleh teman-teman karena warna pakaiannya yang begitu menggoda.

dugaannya benar, teman-teman mengejeknya ketika pertama kali melihatnya. tapi, anak-anak tetaplah anak-anak. meski di ejek, mereka tetap bertawa ria '

sorenya, Ihrom memakainya lagi. tak ada komentar,
besoknya, ia memakainya lagi malah teman-teman dulu yang mengejeknya, justru menyanjungnya. 'ternyata, warna itu bagus juga ya, ayo kita beli yuk'

'peeep peeep peeeep' suara klakson mengaburkan ingatan Ihrom yang memandang adiknya dengan senyuman merekah, si sopir masih berfokus pada kendaraan yang dikemudikannya, takut menabrak sesuatu yang seharusnya tidak di tabrak.

jalanan macet!

.end

jangan pernah membeli baju dengan memakai kaca mata hitam. karena yang sebenarnya tidak sama seperti yang dilihat dari kacamata. 

hey... bukan itu pesannya, tapi ada benarnya juga si ya, hehehe

sering dari kita merasa resah untuk melakukan sesuatu, sesuatu yang benar, sesuatu yang berbeda, tak lazim dari kebanyakan. inovasi dan kreatifitas dari buah hasil pemikiran kita. tapi kita mengurungkan untuk melakukakannya karena satu hal.

orang-orang pasti akan mengejekku 

kawan, yang kita takutkan atau kita resahkan belum tentu terwujud. toh, jika mereka benar-benar mengejek, menyindir, berkomentar pedas, atau segala sesuatu yang 'hot hot' keluar dari bibir mereka. percayalah...

semuanya tidak akan selamanya, tidak akan selamanya mereka berkomentar,
sama seperti baju baru. orang-orang hanya akan berkomentar satu atau dua hari.
setelah itu....... mereka akan terbiasa 

ini hanya soal baju, bayangkan kalau persoalannya lebih mempengaruhi hidup kita.

pernikahan mungkin
persahabatan
pekerjaan
orang tua
dan banyak persoalah lain yang begitu amat penting bagi hidup kita.

so, karena komentar hanya akan bertahan sebentar saja, kita tidak perlu terlalu memikirkan sampai tidak jadi melakukan apa yang kita inginkan bukan?

I_AM

Versi Bahagia Ku

"kok kok bettooooook, ku kuruyyyuuuuuk"
Suara ayam-ayam sahut-menyahut menyambut indahnya mentari. Hiasan hitam kelam langit, perlahan luntur diterpa kilatan yang selalu menghangatkan bumi.

Pagi itu, seperti biasa. dengan ditemani secangkir kopi buatan si adik Maula yang comelnya bukan main, si Ihrom menikmati nuansa pagi yang menyejukkan mata bagi yang memiliki hati.

rumah dengan kayu mapple dan sebuah kolam renang yang berada di ruang tamu masih menjadi sahabat baru pagi para penghuni baru. ya, rumah yang mereka dirikan dengan memakan biaya 5M itu tidaklah bisa kita sebut sahabat setia, apalagi dengan sebutan sehidup semati. haha, umurnya saja baru kemarin kali tuh rumah 

pohon sakura itu dimana?
dia tetap kokoh berdiri berkat penggeseran kursi yang didukuki si pemilik rumah. mungkin jika pohon itu bisa berbicara, 'syukurlah, aku masih bisa menemani taman ini lebih lama lagi''

kalender trus menggugurkan harinya (tahu kan ya jenis kalender yang satu ini, kalau kalian tidak tahu berarti kalian ndeso! :D). ada suatu kehampaan yang menyelimuti diri si Ihrom. si Ihrom punya rumah bagus, uang yang banyak, wajah yang.....(lanjutin sendiri deh :D). pokoknya secara kasat mata, si Ihrom ini tidak mungkin tidak merasa bahagia. tapi kenyataannya?

si Ihrom belum bisa bahagia !

usul punya usul, akhirnya pemuda ini memutuskan untuk sekedar menemui kawan lamanya, kalian bisa panggil dia Rohim atau lebih akrabnya lagi bang rohim. cerita ini cerita itu, dari barat sampai timur, semua sudah Ihrom utarakan pada temennya yang memang lebih nampak berbahagia ini.

"Kau ingin bahagia? besok temui aku disini dengan membawa makanan 50 bungkus dan apapun yang ingin kau bawa, bawalah." ujar si bang Rohim.

Ihrom berpikir buat apa besok saya harus membawa seratus makanan. "Ahh mungkin kali aja si rohim ingin ku mengadakan pesta besar-besaran dengan teman-temannya, mungkin dia ingin menunjukan kebahagiaan yang ku inginkan."

besoknya, si Ihrom pun kembali menemui si Rohim seperti yang telah dijanjikan. Ia membawa 100 bungkus makanan karena berpikir kalau untuk pesta, 50 puluh amat lah berkurang. "Jadi dimana pestanya?" tanya Ihrom.

dengan muka yang datar-datar saja layaknya sebuah dataran tinggi, si Rohim mengajak pemuda pemburu kebahagiaan ini ke sebuah tempat.

PANTI ASUHAN SAYANG ORANG TUA, begitulah tulisan yang terpampang di atas gapura kecil sebuah rumah yang terlihat amat sederhana.

"tempat apa ini,?' hanya itulah kalimat yang ada dipikirannya, hanya ada dipikirannya. dia tidak mengucapkannya karena masih menghormati si Rohim yang lebih berumur dibanding dirinya.

dibaginya makanan yang memang dipersiapkan tadi. - tadinya si dikira buat pesta-. Si Ihrom mengikuti alurnya saja sama seperti yang Rohim minta.

bedug mahgrib pun berkumandang, sesuatu yang sangat dinanti-nanti bagi mereka yang tahu rasanya menahan lapar di bulan puasa. mereka makan dengan lahapnya. Rohim sengaja merekam semua kejadian yang ada ke sebiah kamera miliknya. si Ihrom yang daritadi mengharapkan pesta, hanya mampu menggigit makanan yang ada di sendoknya dengan perasaan agak kecewa.

acarapun selesai, Ihrom dan Rohim berjalan menuju mobil yang sejak dari tadi menunggu mereka. "katanya kau akan menunjukanku kebahagian him? tapi sekarang saya tetap tidak merasa bahagia" plak plak plak, terdengar alunan langkah kaki mungil seorang gadis yang berlari menghampiri keduanya. Lana, gadis kecil penghuni panti yang sejak awal acara tadi mengikuti semua rangkaian dengan riang dan gembira.

sambil memegangi bagian bawah kemeja si Ihrom dengan logat comelnya, si lana pun berkata. "om om om, boleh nggak aku minta sesuatu?"

berpikir karena Ihrom punya uang banyak, dirinya (Ihrom) mengiyakan permintaan si gadis mungil tersebut. 'Adik kecil mau minta apa? pasti om turutin. mau boneka? atau peralatan masak-maksakan? pasti nanti om beliin.'

'bukan itu om bukan itu, tapi.....'
'tapi apa dek lana, dek lana mau baju baru yang mahal?

'bolehkan lana panggil om Ihrom dengan panggilan ayah?' kalimat yang dilontarkan dengan perasaan khas anak kecil tampak bahagia.

.jleb
dada si Ihrom terasa ditikam dengan tikaman lembut 'pisau' kasih. perasaan yang membuat dia serasa ingin menangis tapi bukan karena sakit. ia merasakan sesuatu yang begitu semilir dalam hatinya, iya, ia merasa bahagia.

"Boleh, dan boleh aku minta sesuatu dari gadis manis ini?'
mendengar jawaban itu, Lana langsung meloncat-loncat kegirangan sampai-sampi hampir lupa dengan apa yang tadi di tanyakan "ayah barunya".

"iya, apa yah?"
"ayah ingin memanggil kau dengan sebutan 'anakku sayang'"

.end

harta, rumah, jabatan, dan semua yang kebanyakan orang pikir akan memberikan sebuah kebahagian bila kita memilikinya. tapi benarkah kita akan merasakan hal bahagia karena hal -hal itu?

coba tanyakan pada hati kita yang paling jujur, dan simpan sendiri jawaban kalian dalam hati kalian.

'kalau aku banyak uang, pasti aku akan bahagia" benarkah?

kebahagian adalah suatu perasaan yang menurutku bukan karena uang, bukan juga karena kekasih yang rupawan, rumah yang amat megah, mobil yang banyak dan segala perkara-perkara materi lainnya.

KEBAHAGIAN ADALAH SAAT KITA BISA MELIHAT ORANG LAIN BAHAGIA KARENA KITA.

apakah ketika kau melihat ibumu bahagia saat dia bangga melihatmu sukses, kau tidak merasa bahagia?

apakah ketika si anak merasa senang dibelikan baju bari dan ia tampak bahagia, ibunya tidak akan merasa bahagia pula?

apakah seorang guru tidak akan merasakan bahagia jika melihat muridnya menjuarai suatu lomba atas didikannnya?

so, berbahagialah dengan jalan membahagiakan orang lain sebanyak yang kita bisa, oke? 

itu bahagia versiku, apa versimu?

I_AM