Minggu, 01 Juni 2014

Sebuah Rahasia


Psssttt... Sini sini, aku mau ngasih kau sesuatu, ini rahasia kita berdua ya, jangan sampai ada orang lain tahu, karena rahasia ini rahasia ampuh kawan.

Siniin telingamu, aku takut ada orang lewat yang dengar dan ini bukan rahasia lagi nantinya kalau banyak orang yang tahu... ini spesial untukmu, kawan terbaikku..

Rahasianya adalah...
Penentu keberhasilan bukanlah usaha tapi Doa.

Hah? Kau tidak percaya? Kenapa? Hah? Tidak masuk akal? Tidak ada logikanya kalau doa penentu keberhasilan? Jadi menurutmu keberhasilan itu kuncinya adalah usaha?

Waduduh, mengapa harus sesuai logika dulu baru kau bisa percya kawan? Kau tidak percaya kekuatan doa karena itu diluar logika?

Eh jangan jauhin telingamu dulu, siniin lagi lah, aku pingin ngomong sedikit saja, kau butuh logika kan?
Mukamu jangan kelihatan bingung gitu dong aku jadi bingung juga mau bisik-bisiknya, nanti dikira orang yang bukan-bukan.

Menurutmu mengapa orang itu sukses? Apa karena usaha yang mereka lakukan? Jawabannya tidak!
Tidak sama sekali, kita pikir berapa besar usaha kita untuk bisa jadi diri kita yang sekarang ini? Aku pikir itu masih sangat kecil lhoo, menurutmu itu sebanding? Kau layak mendapatkan seperti itu dengan usahamu yang Cuma segitu?

Kau tahu bro sebenarnya apa  yang menjadikanmu sekarang ini? Itu karena doa kawan.
Duhh, kau kok malah mengernyitkan dahimu itu, aku belum selesai ni, rahasia ini spesial masalahnya, aku ingin cuma kau yang tahu.

Iya, karena doa.

Engkau mungkin tidak akan pernah tahu ada orang yang selalu menangis di setiap malam mendoakanmu, bagaimana pula kau tahu, di saat itu kau masih tertidur pulas. Orang itu adalah orang tuamu.

Engkau juga mungkin tidak tahu kalau teman-teman dan orang di sekitarmu ikut juga mendoakanmu dalam canda dan tawa mereka, dalam ngakak mereka.

Oleh karena itu kawan, Tuhan memberikan kesuksesan bukan karena usahamu, tapi karena doa yang ditujukan untukmu. Doa  itu yang utama, usaha hanya pelengkap saja.

Tuhan menganjurkanmu berusaha dan mengusahakan sesuatu hanya agar kesuksesan itu menjadimasuk akal dan logis untuk kau dapatkan.

Bukankah kau lebih suka sesuatu yang logis? Allah sungguh tahu apa yang kau suka. Makanya dia menyuruhmu melogiskan apa yang kau minta.

Ketika ada orang yang minta jadi pandai tapi nggak mau belajar, nanti jika Allah ngasih kepandaian itu jadi tidak masuk akal kan buatmu? Allah sangat mengerti kamu kawan
.
Untuk itu kawan, mereka yang percaya akan kekuatan doa akan selalu berbuat kebaikan, sekecil apapun itu, karena dengan berbuat baik maka akan semakin banyak manusia mendoakanmu.

Dan engkau jangan pernah khawatir kawan, jika kau berbuat baik dan tidak ada seorang pun yang melihat kebaikanmu itu, tenang saja, masih banyak malaikat yang peduli dan melihatmu, dan mereka akan mendoakanmu untuk kebaikanmu pula.

Eh sudah dulu ya, aku dipanggil temenku tuh mau di ajak beli sepatu. Oh ya  lupa, ini kertas buatmu...
.....

Dan kertas itu pun di buka oleh laki-laki yang sejak dari tadi mendengarkan.
PERBANYAKLAH DOAMU DAN KEBAIKANMU KARENA ITU PENENTU KESUKSESANMU, TAPI JANGAN LUPAKAN USAHA MAKSIMALMU UNTUK MEMBUAT KESUKSESAN YANG KAU DAPAT NANTINYA MENJADI SESUATU YANG LOGIS.

-bincang-bincang di akhir perkuliahan termodinamika

Rabu, 16 April 2014

Sudut Pandang



Disuatu suatu sore yang cerah, ditemani siluet mentari dengan warna kemerah-merahan. Ihrom memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri pantai impian yang berjarak kurang lebih 20km dari tempat tinggalnya.

 Sebenarnya kedatangan Ihrom hari itu bukanlah suatu perkara yang begitu penting memang. Ia berusaha ‘menghabisi’ waktu untuk menunggu berbuka dengan sedikit menikmati indahnya pantai yang telah lama terlupa akibat jeratan pekerjaan yang tidak kunjung memiliki waktu jeda. Yap, sebuah perjalanan dimana orang-orang sekarang lebih enak menyebutnya dengan sebutan ‘ngabuburit’. Tak tahu dari bibir siapa kata itu pertama kali terucap. Yang jelas kata itu akan selalu menjadi trend di kala bulan puasa penuh suka-cinta mampir dalam hari-hari dunia.

Kicauan burung camar yang saling bersaut-sautan dan juga deburan ombak yang gulungannya saling susul menyusul bak seorang anak kecil yang mengejar kawan ‘jahat’ yang tega menjahilinya. Membuat Ihrom terbenam dalam perasaan takjub hingga ia melupakan apa yang dari tadi mengganggu dan berdendang merdu dalam perutnya. Rasa Lapar

                Langkah demi langkah ia gerakan ditepian pantai. Sebuah kilatan cahaya sedikit menusuk pandangannya. Semakin ia dekati, maka semain tajam tikuman dari kilau itu. Dibuka dan disingkirkan batu batu kerikil yang menghalanginya. Sebuah Permata. Pemata seukuran kelereng yang biasa ia mainkan di kala kecil dulu.


Tinggal Geser Bangkunya

‘Lana sayang, kau masih ingat cerita Ihrom dan permata itu? Maukah kau ku ceritakan dongeng lanjutan kemarin?

Tanpa dimintapun si Lana mengangguk mantap. Sebenarnya pertanyaan si kakek juga tidak membutuhkan jawaban. Bagaimana Lana  akan lupa kalau cerita Ihrom saja baru kemarin ia dengar dari kakeknya. Dan mengenai maukah si Lana mendongengkan cerita selanjutnya tidak perlu ditanya lagi. ia pasti berminat dan langsung duduk manis sambil memasang wajah penasaran. Agak gemas memang, gadis sekecil sudah ingin mengetahui banyak hal.

‘Kakek hari ini mau cerita apa kek?’ tampak wajah tenang dari si kakek membuat Lana yakin bahwa si kakek sudah menyiapkan segalanya. Namun apa yang dikatakan si kakek? Tak disangka, Ia justru menanyakan Lana ingin mendengar cerita tentang apa. Wow, apakah memang si kakek bisa mengarang cerita sehebat itu?

Sabtu, 15 Maret 2014

Rusa Bertanduk


Kalian pernah lihat rusa? Dimana? Bagaimana pendapat kalian tentang mereka. Nah, cerita kali ini akan mengisahkan tentang darimana tanduk si rusa berasal.

Di suatu hutan di pedalaman Kalimantan Barat hidup berbagai populasi hewan yang saling berjalan selaras dengan alam. Terdapat kumpulan kerbau dengan burung jalak yang menempel di pundaknya. Burung-burung nan penuh warna menari-nari di udara membentuk formasi yang tidak kalah dengan indahnya pelangi. Tupai dan bajing terus menerus lompat dari dahan satu ke dahan lainnya guna mencari makan. Dan masih banyak lagi, tak terkecuali dengan segerombolan rusa.

Jumat, 31 Januari 2014

Hitam “Ternyata Tidak” Terlambat

Di sebuah desa bernama Valley of Peace terdapat perkumpulan para remaja yang terdiri dari 9 orang. Si Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu dan terakhir si Hitam.

Seperti tahun-tahun sebelumnya. Delapan sekawan ini selalu mengadakan pesta minum teh di bulan februari sebagai tanda syukur atas panen teh yang mereka tanam.

Segalanya sudah dipersiapkan, mulai dari tempat, makanan, undangan pun telah disebarkan. Dan ada suatu tradisi yang mereka pegang erat. Mereka tidak akan memulai acara sebelum semua anggota persekutuan itu datang.

.....

Rabu, 29 Januari 2014

Hitam Terlambat


Apa yang kita pikirkan tentang kata yang satu ini? warna? kelam? Pekat? Resah? Dan segala perasaan negatif lainnya.

Ada beberapa kisah hitam dalam beberapa versi. Dan yang satu ini adalah salah satu versi yang disampaikan oleh seorang anak kecil yang senang berkhayal.

Disepanjang musim semi, di desa Valley of Peace yang berpenduduk 8 anak kecil selalu diadakan acara perjamuan teh sebagai tanda syukur akan panen kebun teh yang penduduk tanam.

Segalanya sudah dipersiapkan, mulai dari tempat, makanan, undangan pun telah disebarkan. Dan ada suatu tradisi yang mereka pegang erat. Mereka tidak akan memulai acara sebelum semua penduduknya datang. 2 jam mereka menunggu, namun Hitam tidak pula datang. Selang beberapa lama kemudian Hitam tiba dengan santainya.

‘Dari mana saja kau? Kita telah menunggumu sampai tenggorokan kami kering kerontang.”. Bukannya minta maaf, Hitam justru menjawab dengan santainya. ‘Tadi ada urusan yang lebih penting yang harus ku kerjakan’

Jika terlambatnya satu kali, dua kali, atau tiga kali mungkin tidak akan terlalu menyakitkan hati. Namun bagaimana jika selalu terlambat di setiap acara dan tugas? Rapat, acara desa, kerja bakti dan segala acara lainnya, si Hitam pastilah yang datang paling akhir.

Akhirnya, dengan kesepakatan bersama dari semua pihak, teman-teman hitam pun memutuskan untuk meninggalkan Hitam.

Sejak saat itulah, Hitam tidak ada di langit bersama 7 warna yang lain di pelangi.

Ditulis dari cerita yang sama yang dituturkan Tere Liye


Rabu, 01 Januari 2014

Cendekia itu...........



                Senin, 24 Maret 2014, jam ditengah kota berdentang anggun sebanyak 6 kali. Suara teng tung teng tung laksana dehemen orang yang paling bijaksana yang pernah hidup. Sepagi itu, seluruh penduduk kota ‘comal’ mulai berlalu lalang sambil sibuk melihat jam ditangannya. Lagi-lagi suatu tradisi apik yang dikembangkan oleh masyarakat sekitar secara turun temurun sejak kota ini dilahirkan. ‘tepat waktu adalah harga mati.’ Sejatinya bila pemandangan ini dilihat oleh kota lain, tentulah sangat menginspirasi. Atau justru mengkonfrontasi hati untuk membenci hal yang seperti ini? Kumbang pun membisu tidak mampu menjelaskan apa yang dipikirkan setiap manusia di bumi.

                Hari memang begitu cerah. Sinar mentari bersahabat baik dengan  mereka yang hatinya sedang baik. Dia menghangatkan dengan setia tanpa pamrih dari mereka yang menerima. Namun, hari yang cerah tidak menjanjikan bahwa tiap hati manusia pagi itu secerah pagi yang mereka lihat

Seorang pemuda berusia sekitar 17 atau 18an terlihat termenung di bangku taman kota. Pandangannya melihat kosong ke arah penduduk yang silih berganti di hadapannya. Muka yang menampakkan kesedihan dan ketakutan, ditambah lagi sorotan mata yang sama sekali tidak semangat untuk menjalani pagi.

Lelaki yang duduk ini sedang ada masalah, masalah terhadap mimpi-mimpinya. Beberapa hari ini ia memimpikan mimpinya yang berakhir buruk.