Rabu, 01 Januari 2014

Cendekia itu...........



                Senin, 24 Maret 2014, jam ditengah kota berdentang anggun sebanyak 6 kali. Suara teng tung teng tung laksana dehemen orang yang paling bijaksana yang pernah hidup. Sepagi itu, seluruh penduduk kota ‘comal’ mulai berlalu lalang sambil sibuk melihat jam ditangannya. Lagi-lagi suatu tradisi apik yang dikembangkan oleh masyarakat sekitar secara turun temurun sejak kota ini dilahirkan. ‘tepat waktu adalah harga mati.’ Sejatinya bila pemandangan ini dilihat oleh kota lain, tentulah sangat menginspirasi. Atau justru mengkonfrontasi hati untuk membenci hal yang seperti ini? Kumbang pun membisu tidak mampu menjelaskan apa yang dipikirkan setiap manusia di bumi.

                Hari memang begitu cerah. Sinar mentari bersahabat baik dengan  mereka yang hatinya sedang baik. Dia menghangatkan dengan setia tanpa pamrih dari mereka yang menerima. Namun, hari yang cerah tidak menjanjikan bahwa tiap hati manusia pagi itu secerah pagi yang mereka lihat

Seorang pemuda berusia sekitar 17 atau 18an terlihat termenung di bangku taman kota. Pandangannya melihat kosong ke arah penduduk yang silih berganti di hadapannya. Muka yang menampakkan kesedihan dan ketakutan, ditambah lagi sorotan mata yang sama sekali tidak semangat untuk menjalani pagi.

Lelaki yang duduk ini sedang ada masalah, masalah terhadap mimpi-mimpinya. Beberapa hari ini ia memimpikan mimpinya yang berakhir buruk.



***

                Lelaki itu duduk bersemangat di bangku kamar kos sembari mencorat-coretkan pensil ke sebuah kertas. Menyusun kata menjadi untain makna yang hendak ia simpan dalam dalam di hatinya.

                Senyam senyum, indah rasanya membayangkan akan jadi apa dia nantinya. Sebuah profesi ia tuliskan dalam secarik kertas tadi. Pengusaha sukses.





Puas menjelajahi cita-citanya tersebut, si lelaki tadi akhirnya memutuskan untuk benar-benar menuju dunia mimpi.

                ‘Semoga malam ini mimpiku indah’

Pagi itu dia bangun dari tempat pembaringannya. Menemukan dirinya berbaju rapi, berdasi kupu-kupu dengan corak kupu kupu pula. Rambut ditata sedemikian rupa hingga licinnya melebihi sebuah kaca yang dilumuri oli. Dia keluar dari ruangan dengan perasaan antusias.

                Tangan kanan kirinya berayun-ayun mengacungkan jemarinya kesana dan kemari memberikan instruksi kepada anak buahnya untuk mendirikan sebuah perusahaan baru miliknya.

Awalnya, semua nya berjalan sesuai dengan rencana. Namun, mungkin karena belum pengalaman atau gimana, lelaki tersebut bukan melihat perusahaannya berdiri dengan megah, justru menemukan bahwa dia telah ditipu oleh partner kerjanya hingga rugilah 200 juta rupiah.

Uang tersebut tentulah sangat besar bagi pengusaha yang baru merintis karirnya. Tidak hanya itu, masalah datang bertubi-tubi menghantam kehidupan laki-laki berperawakan ideal tersebut. Harta, cinta dan seluruh keluarganya seolah mencampakkannya begitu saja setelah tragedi penipuan itu. Sungguh dunia ini begitu ‘kejam’ baginya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan lompat dari jembatan kota.

***

Megap-megap lelaki tadi bangun dari tidurnya. Bulir bulir keringat mengalir lembut dari wajah. Begitu pula dengan bagian tubuh lainnya. Basah kucup oleh cairan yang keluar dari pori-pori pemuda tersebut.

           ‘Apakah itu mimpi, tapi mengapa terasa begitu  nyata? Apakah itu gambaran masa depanku nanti ketika aku memilih jadi pengusaha?’

***

‘Semoga malam ini mimpi itu tidak datang kembali, aku ingin jadi politikus saja, hidup nya nyaman dengan dipercaya oleh banyak orang.’

Pelan tapi pasti, akhirnya ia bisa memejamkan matanya dengan tenang.

            Pagi itu, dia bangun dari tempat tidurnya. Mandi dan sarapan untuk persiapan melamar jadi anggota partai politik. Setelan terbaik hari ini ia sematkan dalam kulit hitamnya.
             Lamaran sudah diserahkan, dan keputusan dibuat seketika itu juga yang menyatakan ia diterima. Seluruh waktu, tenaga dan biaya dia korbankan demi memajukan partainya. Semuanya nampak indah pada awalnya, ia masuk ke dalam salah satu jajaran dewan yang duduk di kantor pusat pemerintahan negeri.

              Sampai suatu ketika ia dijebloskan penjara akibat di tuduh melakukan tindak korupsi dan penyalah gunaan jabatan. Dia sungguh tidak paham, padahal ia merasa semua telah ia lakukan sesuai tugas dan kewajibannya. Usul punya usul, ternyata ‘kecelakaan’ itu telah direkayasa. Lelaki tersebut dijebloskan penjara oleh teman baiknya sendiri.

             ‘Tidak ada kawan dan lawan, yang ada hanya kepentingan’

              Begitulah pelajaran yang diambil dari jeruji besi hari itu. Karena tak sanggup menahan malu dan kesendirian dalam ruangan persegi itu. Sungguh dunia ini kejam. Akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menelan obat serangga yang biasa petugas lapas gunakan untuk membasmi kecoa.

***
Megap megap pemuda tadi bangun dari tidurnya. Bulir-bulir keringat bercucuran deras dari seluruh tubuhnya.
            ‘Apakah itu mimpi, tapi mengapa terasa begitu  nyata? Apakah itu gambaran masa depanku nanti ketika aku memilih jadi politikus?’

Malam itu terus berulang mimpi buruk tentang mimpi mimpi masa depannya. Hingga ia merasa tidak berdaya untuk sekedar melangkah maju untuk mengarungi bahtera kehidupan.

***
Waktu menunjukan pukul 10 pagi. Pemuda itu masih tampak termenung tanpa mengubah posisi duduk sedikitpun. Raut muka yang ia tampakkan juga masih sama. Tatapan kosong yang tak bermakna.

             Tatapan itu bahkan membuatnya tidak menyadari kedatangan seorang bapak-bapak tua yang sejak dari tadi memandangnya dengan pandangan bersahabat dengan penuh takzim. Pak tua itu seolah tahu apa yang ada di pikiran pemuda disampingnya.

             “Kau bermimpi buruk nak?’

              Suara tiba-tiba itu sontak membuat pemuda itu terbangun dari lamunannya.

            ‘Bagaimana pak tua tahu aku bermimpi buruk?’ tanya si pemuda heran.

             ‘Anggap saja aku tahu segalanya, masalah mimpi itu. Tak usah lah kau pikirkan dalam-dalam, itu hanyalah sebuah mimpi dari mimpi yang coba kau bangun’

            ‘Maksud Pak Tua?’

Aku melihatmu terus menerus merasa tertekan semenjak kau masuk dalam dunia perkuliahan. Aku menemukan bahwa kau takut bagaimana bila kau tidak menjadi apa apa di hari kelak. Bagaimana jika kau tidak bisa melakukan banyak. Bagaimana jika cita-cita yang kau telah impikan bakan sejak dalan buaian justru tidak pernah tercapai, atau bagaimana jika meski itu tercapai namun tidak seperti yang kau harapkan. Dan bagaimana bila kau tidak bisa menjadi seorang CENDEKIA? Begitu bukan?

Pemuda tersebut menatap heran wajah Pak Tua, bagaimana dia bisa tahu? Dia sebenarnya ingin menanyakan hal itu. tetapi urung karena kesedihan itu seolah menahan mulutnya untuk sekedar melontar kan pertanyaan sederhana untuk Pak Tua.

Semua pertanyaan itu membuatmu semakin terpuruk anak muda. Beban berat itu kau tambah pula dengan menganggap dirimu bodoh karena orang lain mengatakan yang demikian kepadamu. Kau menganggap dirimu sendiri bodoh karena dulu kau tidak bisa mengerjakan soal matematika. Ketika kau menemukan bahwa dalam dunia ini begitu banyak persaingan dan melihat teman-temanmu begitu pintar-pintar,

Engkau mulai ketakutan, dan ketakutan itu terus dalam, hingga ia mampu menenggelamkanmu dalam lautan keputusasaa yang karena itu pula lah mimpi burukmu datang tiap malam.

Wahai anak muda, kau masih muda tidak seperti diriku yang sudah tua renta, dan aku percaya kau orang baik. Bagaimana kau akan hidup jika kau takut akan kehidupan?

Kau terlalu memikirkan yang lalu dan yang akan datang. Pepatah lama mengatakan:

Yesterday is history,
Tomorrow is mystery,
And today is gift
That why it called ‘present’.

Dan kau tahu apa itu Cendekia menurut kakek tua ini anak muda? Cendekia bukanlah mereka yang pintar tapi mereka yang giat belajar. Cendekia bukanlah mereka yang bisa menghasilkan PENEMUAN, melainkan mereka yang berhasil menemukan diri mereka berguna bagi lingkungannya.

            Seketika wajah bagai benang kusut itu mulai memancarkan rona cerah layaknya bunga kering yang disiram rentetan hujan. Sebuah kesadaran itu muncul, kesadaran yang telah lama hilang.

Bahwa hidup harus terus berjalan. 

Pak tua meminta izin untuk pamit pulang, sebelum mulai beranjak pergi, ia menitipkan salah benda berharganya kepada anak muda tersebut.


Cincin yang nantinya selalu mengingatkan pemuda akan petuah dan nasehat pak tua.

Cincin yang bertuliskan.

Bagi CENDEKIA,  tiap hari adalah hari yang baru.

Anak muda itu sontak berlari hingga suara itu kembali datang di kedua telinganya.

“Siapa namamu wahai anak muda? Dan kau mau kemana” tanya si pak tua

 “CHANDRA TEGUH”, CENDEKIA TEKNIKA, disana banyak pemuda-pemuda yang ISTIMEWA, para Cendekia sesungguhnya seperti yang kakek bilang.

1 komentar:

  1. Cendekia itu bermanfaat :)

    Selamat belajar di Cendekia Teknika dan tetap Semangat !
    Istiqamah dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya ;)

    BalasHapus