
Apa
yang kita pikirkan tentang kata yang satu ini? warna? kelam? Pekat? Resah? Dan
segala perasaan negatif lainnya.
Ada
beberapa kisah hitam dalam beberapa versi. Dan yang satu ini adalah salah satu
versi yang disampaikan oleh seorang anak kecil yang senang berkhayal.
Disepanjang
musim semi, di desa Valley of Peace yang berpenduduk 8 anak kecil selalu
diadakan acara perjamuan teh sebagai tanda syukur akan panen kebun teh yang
penduduk tanam.
Segalanya
sudah dipersiapkan, mulai dari tempat, makanan, undangan pun telah disebarkan.
Dan ada suatu tradisi yang mereka pegang erat. Mereka tidak akan memulai acara
sebelum semua penduduknya datang. 2 jam mereka menunggu, namun Hitam tidak pula
datang. Selang beberapa lama kemudian Hitam tiba dengan santainya.
‘Dari
mana saja kau? Kita telah menunggumu sampai tenggorokan kami kering
kerontang.”. Bukannya minta maaf, Hitam justru menjawab dengan santainya. ‘Tadi
ada urusan yang lebih penting yang harus ku kerjakan’
Jika
terlambatnya satu kali, dua kali, atau tiga kali mungkin tidak akan terlalu
menyakitkan hati. Namun bagaimana jika selalu terlambat di setiap acara dan
tugas? Rapat, acara desa, kerja bakti dan segala acara lainnya, si Hitam
pastilah yang datang paling akhir.
Akhirnya,
dengan kesepakatan bersama dari semua pihak, teman-teman hitam pun memutuskan
untuk meninggalkan Hitam.
Sejak
saat itulah, Hitam tidak ada di langit bersama 7 warna yang lain di pelangi.
Ditulis dari cerita yang sama yang dituturkan Tere Liye
Tidak ada komentar:
Posting Komentar