Rabu, 29 Januari 2014

Hitam Terlambat


Apa yang kita pikirkan tentang kata yang satu ini? warna? kelam? Pekat? Resah? Dan segala perasaan negatif lainnya.

Ada beberapa kisah hitam dalam beberapa versi. Dan yang satu ini adalah salah satu versi yang disampaikan oleh seorang anak kecil yang senang berkhayal.

Disepanjang musim semi, di desa Valley of Peace yang berpenduduk 8 anak kecil selalu diadakan acara perjamuan teh sebagai tanda syukur akan panen kebun teh yang penduduk tanam.

Segalanya sudah dipersiapkan, mulai dari tempat, makanan, undangan pun telah disebarkan. Dan ada suatu tradisi yang mereka pegang erat. Mereka tidak akan memulai acara sebelum semua penduduknya datang. 2 jam mereka menunggu, namun Hitam tidak pula datang. Selang beberapa lama kemudian Hitam tiba dengan santainya.

‘Dari mana saja kau? Kita telah menunggumu sampai tenggorokan kami kering kerontang.”. Bukannya minta maaf, Hitam justru menjawab dengan santainya. ‘Tadi ada urusan yang lebih penting yang harus ku kerjakan’

Jika terlambatnya satu kali, dua kali, atau tiga kali mungkin tidak akan terlalu menyakitkan hati. Namun bagaimana jika selalu terlambat di setiap acara dan tugas? Rapat, acara desa, kerja bakti dan segala acara lainnya, si Hitam pastilah yang datang paling akhir.

Akhirnya, dengan kesepakatan bersama dari semua pihak, teman-teman hitam pun memutuskan untuk meninggalkan Hitam.

Sejak saat itulah, Hitam tidak ada di langit bersama 7 warna yang lain di pelangi.

Ditulis dari cerita yang sama yang dituturkan Tere Liye


Tidak ada komentar:

Posting Komentar