Di sebuah desa bernama
Valley of Peace terdapat perkumpulan para remaja yang terdiri dari 9 orang. Si
Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu dan terakhir si Hitam.
Seperti
tahun-tahun sebelumnya. Delapan sekawan ini selalu mengadakan pesta minum teh
di bulan februari sebagai tanda syukur atas panen teh yang mereka tanam.
Segalanya sudah dipersiapkan,
mulai dari tempat, makanan, undangan pun telah disebarkan. Dan ada suatu
tradisi yang mereka pegang erat. Mereka tidak akan memulai acara sebelum semua anggota persekutuan itu datang.
.....
Pagi
yang cerah seperti biasa, hari ini adalah hari pertama pesta teh itu di adakan.
Si Hitam telah mengenakan semua setelan terbaiknya untuk acara ini. Kaos hitam,
kecamata hitam, celana hitam, intinya apapun yang melekat ditubuhnya sekarang
serba berwarna hitam. Hanya giginya yang berwarna putih bersih. Bahkan
keputihannya berkilau mengalahkan gigi mereka-mereka yang kulit putih.
Hitam
telah berangkat dari rumah satu jam sebelum acara. Dengan jam keberangkatan
seperti itu harusnya ia menjadi orang yang pertama yang tiba di tempat jamuan
teh itu diselenggarakan.
Dalam
perjalanan, terlihat Ibu si Merah yang sedang kesuitan membawa barang
belanjaannya dari pasar. Terlihat sekali dari peluh yang menetes di wajah sang
ibu. Melihat keadaan ibu saudara
persekutuannya hitam memutuskan untuk membantu membawakan belanjaannya.
Berat nian rasanya bawaan yang dijinjing sang ibu. Karena ia harus kembali ke
rumah si Merah dan merawat ibu Merah yang tampak kelelahan di kamar tidurnya.
Apa boleh buat, ternyata 3 jam telah berlalu. Sebelum berpamitan, ia berpesan
pada sang ibu. ‘Apapun yang terjadi, Jangan pernah bilang siapa-siapa ya Bu,
termasuk Merah”
Ia
membuka pintu rumah pesta. “Darimana
saja kau?” tanya warna serempak.
“Tadi ada urusan yang lebih penting yang harus ku kerjakan’ sambil menampilkan
seringai lebarnya.
......
Hari
kedua perayaan, si Hitam berjanji pada dirinya sendiri. ia tidak ingin
terlambat lagi. sesungguhnya ia tidak sanggup melihat wajah kekecewaan
teman-temannya karena dirinya. Oleh karena itu ia berangkat 2 jam sebelum pesta dimulai. Tapi apa boleh buat,
dalam perjalanan ia menemukan Adik si Biru terjatuh dari sepeda sampai lututnya
berdarah-darah. Sepeda yang dibawanya pun terperesok ke dalam sungai. Tanpa
basa basi ia langsung membawa adik Biru ke gubuk dekat ia terjatuh. Sang adik
meski lukanya sudah dibalut dengan kain robekan si Hitam namun tetap menangis
juga. SEPEDA. Akhirnya dengan susah payah si Hitam berhasil meraih sepeda. Ia
menggendong sang Adik biru dan mengantarkannya pulang.
‘Apapun yang terjadi, Jangan
pernah bilang siapa-siapa ya dek, termasuk ke Biru”
Hitam
terlambat lagi...
.....
Dengan
tekad bulad sebulat bola, ia berangkat 3 jam lebih awal dari acara semestinya.
Kalau berangkat sedini ini, mana mungkin ia bisa telat? Pikir Hitam dalam hati.
Ayah si Hijau terlihat gelisan memikirkan sesuatu. Si Hitam mendekat dan
menanyakan perihal apakah yang mengganggu di pikiran si Ayah. setelah lama
berbincang-bincang, akhirnya si Ayah menuturkan bahwa ia sebenarnya harus
mengurus beasiswa buat si Hijau di kantor kabupaten. Tapi, pekerjaannya sebagai
pekerja bangunan dalam proyek besar pembangunan tugu kota membuatnya tidak
mungkin sembarangan saja meminta cuti kerja. Akan parah hasilnya jika ia nekad bolos, ia bisa dipecat oleh si mandor
padahal pekerjaan tersebut adalah satu-satunya lahan penghidupan bagi keluarga
Hijau. Namun bagaimana bisa sang ayah mengorbankan kesempatan anaknya untuk
melanjutkan di sekolah favorit Hijau.
Demi
melihat kesedihan di wajah sang ayah. dan keinginan si Hitam agar melihat si
Hijau bahagia memperoleh beasiswa. Hitam pun memutuskan untuk menggantikan
posisi Ayah Hijau sebagai pekerja bangunan selama satu hari. Setelah berdiskusi
dengan mandor, akhirnya ayah dijinkan untuk pergi ke kota dengan Hitam sebagai
gantinya.
“Apapun yang terjadi, Jangan
pernah bilang siapa-siapa ya Pak, termasuk ke Hijau”
Si
Hitam tidak bisa datang....
.....
Alhasil selama perayaan pesta teh
bersama teman-temannya itu. Tak pernah ia datang tepat waktu, malahan di hari
itu ia benar-benar tidak bisa datang untuk membantu banyak orang.
Hampir semua penduduk ditolongnya
saat perjalanan ke pesta. Selalu ada saja sesuatu
yang menghentikan langkahnya menuju ke pesta hingga ia terlambat. Dan apa
pesannya...
“Jangan bilang siapa siapa ya,
termasuk si.... (anggota perkumpulan warna)’
......
Jika
terlambatnya satu kali, dua kali, atau tiga kali mungkin tidak akan terlalu
menyakitkan hati. Namun bagaimana jika selalu terlambat di setiap acara? Si
Hitam pastilah yang datang paling akhir.
Akhirnya, dengan
kesepakatan bersama dari semua pihak, teman-teman hitam pun memutuskan untuk
meninggalkan Hitam.
Dan si hitam tersenyum ikhlas
dengan semua yang terjadi. Hitam tidak ada di langit bersama 7 warna yang lain
di pelangi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar