Senin, 24 Maret 2014, jam
ditengah kota berdentang anggun sebanyak 6 kali. Suara teng tung teng tung
laksana dehemen orang yang paling bijaksana yang pernah hidup. Sepagi itu,
seluruh penduduk kota ‘comal’ mulai berlalu lalang sambil sibuk melihat jam
ditangannya. Lagi-lagi suatu tradisi apik yang dikembangkan oleh masyarakat
sekitar secara turun temurun sejak kota ini dilahirkan. ‘tepat waktu adalah
harga mati.’ Sejatinya bila pemandangan ini dilihat oleh kota lain, tentulah
sangat menginspirasi. Atau justru mengkonfrontasi hati untuk membenci hal yang
seperti ini? Kumbang pun membisu tidak mampu menjelaskan apa yang dipikirkan
setiap manusia di bumi.
Hari memang begitu cerah. Sinar
mentari bersahabat baik dengan mereka
yang hatinya sedang baik. Dia menghangatkan dengan setia tanpa pamrih dari
mereka yang menerima. Namun, hari yang cerah tidak menjanjikan bahwa tiap hati
manusia pagi itu secerah pagi yang mereka lihat
Seorang pemuda berusia sekitar 17 atau 18an terlihat termenung di
bangku taman kota. Pandangannya melihat kosong ke arah penduduk yang silih
berganti di hadapannya. Muka yang menampakkan kesedihan dan ketakutan, ditambah
lagi sorotan mata yang sama sekali tidak semangat untuk menjalani pagi.
***

Lelaki itu duduk bersemangat di
bangku kamar kos sembari mencorat-coretkan pensil ke sebuah kertas. Menyusun
kata menjadi untain makna yang hendak ia simpan dalam dalam di hatinya.
Senyam senyum, indah rasanya
membayangkan akan jadi apa dia nantinya. Sebuah profesi ia tuliskan dalam
secarik kertas tadi. Pengusaha sukses.
Puas menjelajahi cita-citanya tersebut, si lelaki tadi akhirnya
memutuskan untuk benar-benar menuju dunia mimpi.
‘Semoga malam ini mimpiku indah’
Pagi itu dia bangun dari tempat
pembaringannya. Menemukan dirinya berbaju rapi, berdasi kupu-kupu dengan corak
kupu kupu pula. Rambut ditata sedemikian rupa hingga licinnya melebihi sebuah
kaca yang dilumuri oli. Dia keluar dari ruangan dengan perasaan antusias.
Tangan
kanan kirinya berayun-ayun mengacungkan jemarinya kesana dan kemari memberikan
instruksi kepada anak buahnya untuk mendirikan sebuah perusahaan baru miliknya.
Awalnya, semua nya berjalan sesuai
dengan rencana. Namun, mungkin karena belum pengalaman atau gimana, lelaki
tersebut bukan melihat perusahaannya berdiri dengan megah, justru menemukan
bahwa dia telah ditipu oleh partner kerjanya hingga rugilah 200 juta rupiah.
Uang tersebut tentulah sangat
besar bagi pengusaha yang baru merintis karirnya. Tidak hanya itu, masalah
datang bertubi-tubi menghantam kehidupan laki-laki berperawakan ideal tersebut.
Harta, cinta dan seluruh keluarganya seolah mencampakkannya begitu saja setelah
tragedi penipuan itu. Sungguh dunia ini begitu ‘kejam’ baginya. Akhirnya dia
memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan lompat dari jembatan kota.
***
Megap-megap lelaki tadi bangun
dari tidurnya. Bulir bulir keringat mengalir lembut dari wajah. Begitu pula
dengan bagian tubuh lainnya. Basah kucup oleh cairan yang keluar dari pori-pori
pemuda tersebut.
‘Apakah
itu mimpi, tapi mengapa terasa begitu
nyata? Apakah itu gambaran masa depanku nanti ketika aku memilih jadi
pengusaha?’
***
‘Semoga malam ini mimpi itu tidak
datang kembali, aku ingin jadi politikus saja, hidup nya nyaman dengan
dipercaya oleh banyak orang.’
Pelan tapi pasti, akhirnya ia
bisa memejamkan matanya dengan tenang.
Pagi
itu, dia bangun dari tempat tidurnya. Mandi dan sarapan untuk persiapan melamar
jadi anggota partai politik. Setelan terbaik hari ini ia sematkan dalam kulit
hitamnya.
Lamaran
sudah diserahkan, dan keputusan dibuat seketika itu juga yang menyatakan ia
diterima. Seluruh waktu, tenaga dan biaya dia korbankan demi memajukan
partainya. Semuanya nampak indah pada awalnya, ia masuk ke dalam salah satu
jajaran dewan yang duduk di kantor pusat pemerintahan negeri.
Sampai
suatu ketika ia dijebloskan penjara akibat di tuduh melakukan tindak korupsi
dan penyalah gunaan jabatan. Dia sungguh tidak paham, padahal ia merasa semua
telah ia lakukan sesuai tugas dan kewajibannya. Usul punya usul, ternyata
‘kecelakaan’ itu telah direkayasa. Lelaki tersebut dijebloskan penjara oleh
teman baiknya sendiri.
‘Tidak
ada kawan dan lawan, yang ada hanya kepentingan’
Begitulah
pelajaran yang diambil dari jeruji besi hari itu. Karena tak sanggup menahan
malu dan kesendirian dalam ruangan persegi itu. Sungguh dunia ini kejam.
Akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menelan obat serangga
yang biasa petugas lapas gunakan untuk membasmi kecoa.
***
Megap megap pemuda tadi bangun
dari tidurnya. Bulir-bulir keringat bercucuran deras dari seluruh tubuhnya.
‘Apakah
itu mimpi, tapi mengapa terasa begitu
nyata? Apakah itu gambaran masa depanku nanti ketika aku memilih jadi
politikus?’
Malam itu terus berulang mimpi
buruk tentang mimpi mimpi masa depannya. Hingga ia merasa tidak berdaya untuk
sekedar melangkah maju untuk mengarungi bahtera kehidupan.
***
Waktu menunjukan pukul 10 pagi.
Pemuda itu masih tampak termenung tanpa mengubah posisi duduk sedikitpun. Raut
muka yang ia tampakkan juga masih sama. Tatapan kosong yang tak bermakna.
Tatapan
itu bahkan membuatnya tidak menyadari kedatangan seorang bapak-bapak tua yang
sejak dari tadi memandangnya dengan pandangan bersahabat dengan penuh takzim.
Pak tua itu seolah tahu apa yang ada di pikiran pemuda disampingnya.
“Kau
bermimpi buruk nak?’
Suara
tiba-tiba itu sontak membuat pemuda itu terbangun dari lamunannya.
‘Bagaimana
pak tua tahu aku bermimpi buruk?’ tanya si pemuda heran.
‘Anggap saja aku tahu segalanya, masalah
mimpi itu. Tak usah lah kau pikirkan dalam-dalam, itu hanyalah sebuah mimpi
dari mimpi yang coba kau bangun’
‘Maksud
Pak Tua?’
‘Aku melihatmu terus menerus merasa tertekan semenjak kau masuk dalam
dunia perkuliahan. Aku menemukan bahwa kau takut bagaimana bila kau tidak
menjadi apa apa di hari kelak. Bagaimana jika kau tidak bisa melakukan banyak.
Bagaimana jika cita-cita yang kau telah impikan bakan sejak dalan buaian justru
tidak pernah tercapai, atau bagaimana jika meski itu tercapai namun tidak
seperti yang kau harapkan. Dan bagaimana bila kau tidak bisa menjadi seorang
CENDEKIA? Begitu bukan?
Pemuda tersebut menatap heran
wajah Pak Tua, bagaimana dia bisa tahu? Dia sebenarnya ingin menanyakan hal
itu. tetapi urung karena kesedihan itu seolah menahan mulutnya untuk sekedar
melontar kan pertanyaan sederhana untuk Pak Tua.
Semua pertanyaan itu membuatmu semakin terpuruk anak muda. Beban berat
itu kau tambah pula dengan menganggap dirimu bodoh karena orang lain mengatakan
yang demikian kepadamu. Kau menganggap dirimu sendiri bodoh karena dulu kau
tidak bisa mengerjakan soal matematika. Ketika kau menemukan bahwa dalam dunia
ini begitu banyak persaingan dan melihat teman-temanmu begitu pintar-pintar,
Engkau mulai
ketakutan, dan ketakutan itu terus dalam, hingga ia mampu menenggelamkanmu
dalam lautan keputusasaa yang karena itu pula lah mimpi burukmu datang tiap
malam.
Wahai anak muda, kau
masih muda tidak seperti diriku yang sudah tua renta, dan aku percaya kau orang
baik. Bagaimana kau akan hidup jika kau takut akan kehidupan?
Kau terlalu memikirkan
yang lalu dan yang akan datang. Pepatah lama mengatakan:
Yesterday is history,
Tomorrow is mystery,
And today is gift
That why it called ‘present’.
Dan kau tahu apa itu Cendekia menurut kakek tua ini anak muda? Cendekia
bukanlah mereka yang pintar tapi mereka yang giat belajar. Cendekia bukanlah
mereka yang bisa menghasilkan PENEMUAN, melainkan mereka yang berhasil
menemukan diri mereka berguna bagi lingkungannya.
Seketika
wajah bagai benang kusut itu mulai memancarkan rona cerah layaknya bunga kering
yang disiram rentetan hujan. Sebuah kesadaran itu muncul, kesadaran yang telah
lama hilang.
Bahwa hidup harus terus berjalan.
Pak tua
meminta izin untuk pamit pulang, sebelum mulai beranjak pergi, ia menitipkan
salah benda berharganya kepada anak muda tersebut.
Cincin
yang bertuliskan.
Bagi CENDEKIA, tiap hari adalah hari yang baru.
Anak
muda itu sontak berlari hingga suara itu kembali datang di kedua telinganya.
“Siapa
namamu wahai anak muda? Dan kau mau kemana” tanya si pak tua
“CHANDRA
TEGUH”, CENDEKIA TEKNIKA, disana banyak pemuda-pemuda yang ISTIMEWA, para Cendekia
sesungguhnya seperti yang kakek bilang.




Cendekia itu bermanfaat :)
BalasHapusSelamat belajar di Cendekia Teknika dan tetap Semangat !
Istiqamah dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya ;)