Rabu, 16 April 2014

Sudut Pandang



Disuatu suatu sore yang cerah, ditemani siluet mentari dengan warna kemerah-merahan. Ihrom memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri pantai impian yang berjarak kurang lebih 20km dari tempat tinggalnya.

 Sebenarnya kedatangan Ihrom hari itu bukanlah suatu perkara yang begitu penting memang. Ia berusaha ‘menghabisi’ waktu untuk menunggu berbuka dengan sedikit menikmati indahnya pantai yang telah lama terlupa akibat jeratan pekerjaan yang tidak kunjung memiliki waktu jeda. Yap, sebuah perjalanan dimana orang-orang sekarang lebih enak menyebutnya dengan sebutan ‘ngabuburit’. Tak tahu dari bibir siapa kata itu pertama kali terucap. Yang jelas kata itu akan selalu menjadi trend di kala bulan puasa penuh suka-cinta mampir dalam hari-hari dunia.

Kicauan burung camar yang saling bersaut-sautan dan juga deburan ombak yang gulungannya saling susul menyusul bak seorang anak kecil yang mengejar kawan ‘jahat’ yang tega menjahilinya. Membuat Ihrom terbenam dalam perasaan takjub hingga ia melupakan apa yang dari tadi mengganggu dan berdendang merdu dalam perutnya. Rasa Lapar

                Langkah demi langkah ia gerakan ditepian pantai. Sebuah kilatan cahaya sedikit menusuk pandangannya. Semakin ia dekati, maka semain tajam tikuman dari kilau itu. Dibuka dan disingkirkan batu batu kerikil yang menghalanginya. Sebuah Permata. Pemata seukuran kelereng yang biasa ia mainkan di kala kecil dulu.




           Spontan saja si Ihrom kegirangan bukan main. Mana ada orang yang tidak ada angin tidak ada hujan tiba tiba menemukan permata? Bagaikan jalan-jalan menemukan durian runtuh secara tiba tiba. Dan yang ditemukan jauh lebih berharga dari pada satu keranjang penuh durian.

Pemuda tanggung ini memiliki kenalan yang senang mengoleksi permata. Mavia namanya. Nama yang aneh memang, seaneh hobinya pula. Tanpa pikir panjang si Ihrom membawanya ke rumah Mavia yang kebetulan lokasi nya tidak jauh dari tempat kejadian perkara.

Tawar menawar pun terjadi, Mavia menawarkan segini, si Ihrom menolak dan meminta nominal segitu. Tawar-tolak terjadi berkali-kali hingga akhirnya berujung pada satu harga. 9 milyar rupiah.

Uang sudah ditangan, Ihrom pulang dengan perasaan girang bukan kepalang. Tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapat rejeki nomplok sebanyak 9 milyar. Bahkan memimpikannya pun Ihrom mungkin tidak pernah. Apa ini kah yang disebut berkah Ramadhan?

Dalam perjalanan pulang, dalam hati yang berbunga-bunga, melewati jalanan kota yang bising akan suara kendaraan. Pedagang-pedagang kaki lima mulai sibuk mendirikan lapak dan mempersiapkan takjil untuk berbuka. Secarik koran di tengah jalan tiba-tiba terbang dan menempel tepat di muka Ihrom yang sedang melintas. Persis seperti di film-film drama. 

Ada gambar permata  sama persis yang ia temukan tadi. Baik ukurannya, maupun kilaunya. Atau bahkan mungkin memang permata tadi yang dimaksud dalam isi koran.

DICARI, PERMATA SEPERTI GAMBAR. BARANG SIAPA YANG MENEMUKAN, MAKA KAMI AKAN MEMBELINYA SEHARGA 10 MILYAR.

Sial, aku rugi satu milyar. Desah Ihrom dalam hati yang kesal. Kesenangan tadi sempurna sudah tergantikan perasaan kesal karena ‘kerugian’ yang ia  terima.




....




Suasana sore itu benar-benar nyaman. Burung-burung walet berpamitan untuk kembali berkumpul dengan keluarga.

Terlihat kakek dan Lana yang sedang asyiknya mengamati bidak catur di depannya. Seperti biasa, sambil menghabiskan waktu untuk menanti indahnya waktu berbuka. Mereka memang kakek cucu yang serasi.

“Kek, kasian kak Ihrom ya kek, jadi rugi 1 milyar dia.” Timpal Lana menanggapi cerita yang kakek baru ceritakan tadi sambil menghitung-hitung jarinya.

Lana sebenarnya bingung melihat wajah kakek yang justru senyum takjim mendengarnya. Dalam hati Lana ia berbisik. Pasti ada sesuatu yang berbeda dari dalam cerita kakek tadi. Karena begitulah si Kakek di mata Lana, selalu asyik membawakan 'pelajaran kehidupan'

Lana sayang, benar kok kalau Lana bilang kak Ihrom tadi rugi 1 milyar. Tapi kalau Lana lihatnya dari pas kak Ihrom harusnya dapat 10 milyar. Tapi kalau Lana lihat dari kak Ihrom yang belum menemukan permata, belum dapat uangnya. Menurut Lana kak Ihrom jadinya untung apa rugi?’

Lana terlihat sibuk menekuk-nekuk jarinya. Meletakkan telunjuk di jari satu ke jari lainnya. Menghitung dengan konsentrasi penuh sambil menggembungkan pipinya macam bakpao.

“Kalau dari kak Ihrom belum nemu. Kak Ihrom untung 9 milyar kek.” Sambil menunjukan jarinya agar meyakinkan si kakek yang sejatinya hanya menunjuk 8.

Begitulah Lana ku sayang. Menurut kak Ihrom, ia rugi 1M karena ia seharusnya bisa mendapat untung 10M namun ia hanya mendapat 9M.




9M -10 M = -1M

Lana lahir punya apa?
Lana sekarang punya apa?
terus Lana kehilangan apa?
coba deh Lana hitung lagi
kita ambil umur Lana 5 tahun, makan 3kali sehari @5000rupiah



Tapi kalau kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Kak Ihrom justru untung 9 milyar bukan? Karena pada awalnya ia tidak punya apa apa.

0 + 9M = 9M

Betapa anehnya pemuda yang bernama Ihrom ini, dia mendapat 9M tapi bilang dia rugi 1M.

Begitu juga dalam hidup Lana. Kalau dihitung secara benar-benar dihitung, hidup kita tidak akan pernah rugi karena kita lahir tidak mempunyai sesuatu apapun. bahkan menurut ‘orang awam ini’, kita itu untung terus.

Kita tidak punya apa apa = 0

Sudah berapa tuh Lana? Tidak perlu kau hitung, karena kakek pun tidak tahu cara menghitungnya pakai jari. Hahaha

Belum kita hitung oksigennya, airnya, tanah yang kita pijak dan semua yang diberikan oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Apakah Lana juga mau menghitung kasih sayang Ayah dan Bunda?

Oh ya Lana ku sayang,  cerita tadi juga ada 1 pelajaran yang Lana bisa ambil bahwa kebanyakan manusia berfokus kepada 1 yang hilang seolah-olah ia tidak memperdulikan 9 yang ia punya.



Cerita pertama edisi bulan puasa 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar