‘Lana sayang, kau masih ingat
cerita Ihrom dan permata itu? Maukah kau ku ceritakan dongeng lanjutan
kemarin?’
Tanpa
dimintapun si Lana mengangguk mantap. Sebenarnya pertanyaan si kakek juga tidak
membutuhkan jawaban. Bagaimana Lana akan
lupa kalau cerita Ihrom saja baru kemarin ia dengar dari kakeknya. Dan mengenai
maukah si Lana mendongengkan cerita selanjutnya tidak perlu ditanya lagi. ia
pasti berminat dan langsung duduk manis sambil memasang wajah penasaran. Agak
gemas memang, gadis sekecil sudah ingin mengetahui banyak hal.
‘Kakek
hari ini mau cerita apa kek?’ tampak wajah tenang dari si kakek membuat Lana yakin
bahwa si kakek sudah menyiapkan segalanya. Namun apa yang dikatakan si kakek?
Tak disangka, Ia justru menanyakan Lana ingin mendengar cerita tentang apa.
Wow, apakah memang si kakek bisa mengarang cerita
sehebat itu?
POHON.
Lana meminta si kakek menceritakan tentang pohon. Siang tadi Lana bandel menjahili pohon dengan
memanjatinya. Tapi sungguh tidak beruntung, Lana justru terpeleset karena
tangkai yang dipijaknya patah, tak sanggup menahan berat tubuh mungilnya. Lana
hanya mengaduh kesakitan untuk sesaat.
Jadi
begini ceritanya Lana sayang.....
......
Si
Ihrom hanya tertunduk sepanjang perjalanannya pulang. Teringat 1 milyar nya
yang melayang karena ‘kebodohannya’ menjual kepada Mavia. Kaki kanannya terasa berat sekali ia gerakkan. Seolah-olah
telah tersiram dengan lem super yang sering ia gunakan untuk menambal sepatu
bututnya. Sedangkan kaki kiri seakan terikat rantai yang dibanduli jangkar
kapal feri lintas jawa-sumatra. Sulit sekali ia angkat. Mungkin begitulah
memang yang namanya orang sedang dirundung suatu penyesalan. Persis seperti
orang yang kurang makan padahal perutnya sudah kenyang. Ahh, urusan penyesalan ini tidak pernah
sesederhana yang dibayangkan.
Petir
menggelegar membelah langit dengan membentuk formasi kilatan akar putih yang menakutkan. Lama
tenggelam dalam kesedihan, si Ihrom baru menyadari bahwa dirinya telah basah
kuyup diserbu rintikan hujan.
Buru-buru
ia menuju ke gubuk dekat ia berdiri sekarang.
“Uang
ini akan ku gunakan buat apa ya?”
Melihat
dirinya basah kuyup, melihat betapa sederhananya gubuk yang disinggahinya
sekarang. Si Ihrom akhirnya memutuskan menggunakan uang 5 milyarnya.
"Ya, aku akan memperbagus rumahku sehingga tidak ada yang akan
mengejekku jika kawan-kawan berkunjung ke rumah. Tak ada lagi yang menggumam
kesal karena badan tetap basah meski berada di rumah. Dan para tetangga akan
bilang "duh bagusnya rumahmu, sebagus rupa pemiliknya" Si Ihrom tidak
kuasa menahan tawa kecilnya membayangkan hal tersebut.
Dipanggil seluruh arsitek yang ia pernah kenal untuk menentukan bagaimana
bentuk dan lokasi rumah impiannya. Sepuluh desain telah terdaftar, dan hanya
satu desain yang akan dipilih sekarang. Wajah-wajah para arsitek menampakkan
kekhawatiran. Berharap dengan sangat bahwa desain yang mereka rancang dengan
susah payah akan membuat Ihrom tertarik memakainya.
Demi melihat wajah-wajah itu. Si Ihrom mengeluarkan sedikit celoteh. Ahh, andai saja aku uangnya banyak. Akan
kupakai semua desain kalian untuk rumah-rumahku. Namun apa daya, uang ini hanya
sanggup untuk membangun satu rumah saja.
Diperiksanya semua rancangan satu per satu. Ada yang sedikit menawan hati
si calon pemilik rumah. Dalam salah satu rancangan, si arsitek menjanjikan
pemandangan sunset tiap sore akan didapat dinikmati bila desainnya diterima.
Ihrom memang menyukai sunset. Dan gara
gara sunset lah ia menemukan permata. Waktu pengerjaanpun akan dimulai
dengan segera.
Waktu melesat dua bulan tanpa terasa.
Bangunan itu telah selesai berdiri.. Rumah seharga 5 milyar.
“"Ahh, gpapa. uang 5 milyar melayang, yang penting setelah ini
beribu-ribu orang akan mengagumi rumahku" pikir si Ihrom di dalam hati.
Dan dugaan si Ihrom tidak meleset. Keindahan dan nuansa megah membuat
tetangga yang melewatinya berdecak kagum tak terkira.

Semua lantai dilapisi dengan keramik import dar perancis. Ruang tamu yang
disananya nampak sebuah kolam renang dengan air hangat. Sebuah taman yang
dihiasi dengan ikan-ikan indah berbagai warna. luas kamarnya pun jangan dikata,
lebih besar 10 kali lipat dari ukuran kamar kos para mahasiswa pada umumnya. Tentunya
perabotannya pun tidak kalah hebat. Deskripsi singkat ini nampaknya tidak akan
cukup untuk menggambarkan betapa hebatnya rancangan si arsitek kenamaan
Rina. Tapi, dari semua desain yang
menawan itu, ada satu spot yang amat dia
ingin cicipi. Serambi depan.
Seperti yang dijanjikan Rina, dari titik itu, kita bisa melihat indahnya
matahari terbenam yang selalu membawa kedamaian dalam tiap hati yang
memahaminya.
Sore itu pun tiba, ditemani dengan alunan musik alam yang merdu. Cicit
burung pipit yang hinggap beterbangan mencari maham. si Ihrom duduk di papan
berkaki empat dengan ukiran jeparanya yang khas dan melegenda.
Ada hal yang mengganggu pandangannya untuk menikmati sesuatu yang si
arsitek utarakan tadi.
Sesuatu yang besar, gagah, kuat yang bila badai datang pun mungkin tidak
akan membuatnya bergeser sedikitpun. Sebuah pohon yang sangat terkenal di
negeri matahari terbit. Pohon yang tidak biasanya tumbuh di daerah yang
notabene tropis ini. POHON SAKURA tepat berdiri di depannya.
Daun-daun yang berwarna merah muda menambah keanggunan dari pohon tersebut.
Sejatinya bahkan para tetangga iri melihat rumah Ihrom ditumbuhi pohon sakura
yang melegenda. Tapi entah apa yang Ihrom pikirkan. Karena merasa terganggu dan kesal si Ihrom
pun akhirnya memanggil-manggil si Maula adik perempuannya.
"Maula, Maula, tolong tebang pohon ini. Pohon ini mengganggu
pemandanganku."
"Bukankah kak Ihrom bisa menggeser tempat duduk kaka tanpa harus
menebang pohon sakuranya?"
........
“Jadi kita nggak boleh menebang
pohon sembarang ya kek...” Lana
menimpali cerita si kakek yang telah usai. Memasang wajah mantap dan yakin
benar bahwa yang ia ucapkan tadi bukanlah kesimpulan yang salah.
Si kakek tertawa, heran melihat
cucu gadisnya yang imut menggemaskan cepat sekali menangkap cerita nya barusan.
Kau benar Lana sayang, kau tidak salah. Kau tahu Lana berapa banyak
keputusan di dunia ini yang mengorbankan begitu banyak ‘keindahan sakura’ hanya
karena emosi belaka.
Kau
ingat si Ihrom tadi sayang? Ia hampir saja ‘membunuh’ keindahan si pohon hanya
karena ia kesal tidak bisa melihat sunset. Padahal jawabannya sungguh dekat
sekali untuk mengatasinya.
“tinggal menggeser tempat duduknya
ya kek?’
anak yang cerdas. Sambil mengusap-ngusap rambut lembut milik cucu
gadisnya.
Lana,
kakekmu ini pernah mendengar kalimat sederhana dari seorang sahabat lama.
'Sebaik
apapun keputusan yang kau ambil saat marah, percayalah itu tetap keputusan
buruk'
Si Lana tiba-tiba berpindah
duduk dari pangkuan si kakek, ke bangku sebelahnya. Dan si kakek hanya mencubit
pipi tembemnya.
“Ihhh si kakek” dan mereka berdua tertawa :D
Cerita Kedua di Bulan Puasa 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar