Rabu, 16 April 2014

Tinggal Geser Bangkunya

‘Lana sayang, kau masih ingat cerita Ihrom dan permata itu? Maukah kau ku ceritakan dongeng lanjutan kemarin?

Tanpa dimintapun si Lana mengangguk mantap. Sebenarnya pertanyaan si kakek juga tidak membutuhkan jawaban. Bagaimana Lana  akan lupa kalau cerita Ihrom saja baru kemarin ia dengar dari kakeknya. Dan mengenai maukah si Lana mendongengkan cerita selanjutnya tidak perlu ditanya lagi. ia pasti berminat dan langsung duduk manis sambil memasang wajah penasaran. Agak gemas memang, gadis sekecil sudah ingin mengetahui banyak hal.

‘Kakek hari ini mau cerita apa kek?’ tampak wajah tenang dari si kakek membuat Lana yakin bahwa si kakek sudah menyiapkan segalanya. Namun apa yang dikatakan si kakek? Tak disangka, Ia justru menanyakan Lana ingin mendengar cerita tentang apa. Wow, apakah memang si kakek bisa mengarang cerita sehebat itu?



 POHON. Lana meminta si kakek menceritakan tentang pohon. Siang tadi Lana bandel menjahili pohon dengan memanjatinya. Tapi sungguh tidak beruntung, Lana justru terpeleset karena tangkai yang dipijaknya patah, tak sanggup menahan berat tubuh mungilnya. Lana hanya mengaduh kesakitan untuk sesaat.

Jadi begini ceritanya Lana sayang.....

......

Si Ihrom hanya tertunduk sepanjang perjalanannya pulang. Teringat 1 milyar nya yang melayang karena ‘kebodohannya’ menjual kepada Mavia. Kaki kanannya terasa berat sekali ia gerakkan. Seolah-olah telah tersiram dengan lem super yang sering ia gunakan untuk menambal sepatu bututnya. Sedangkan kaki kiri seakan terikat rantai yang dibanduli jangkar kapal feri lintas jawa-sumatra. Sulit sekali ia angkat. Mungkin begitulah memang yang namanya orang sedang dirundung suatu penyesalan. Persis seperti orang yang kurang makan padahal perutnya sudah kenyang.  Ahh, urusan penyesalan ini tidak pernah sesederhana yang dibayangkan.

Petir menggelegar membelah langit dengan membentuk formasi kilatan akar putih yang menakutkan. Lama tenggelam dalam kesedihan, si Ihrom baru menyadari bahwa dirinya telah basah kuyup diserbu rintikan hujan.
Buru-buru ia menuju ke gubuk dekat ia berdiri sekarang.

“Uang ini akan ku gunakan buat apa ya?”

Melihat dirinya basah kuyup, melihat betapa sederhananya gubuk yang disinggahinya sekarang. Si Ihrom akhirnya memutuskan menggunakan uang 5 milyarnya.

"Ya, aku akan memperbagus rumahku sehingga tidak ada yang akan mengejekku jika kawan-kawan berkunjung ke rumah. Tak ada lagi yang menggumam kesal karena badan tetap basah meski berada di rumah. Dan para tetangga akan bilang "duh bagusnya rumahmu, sebagus rupa pemiliknya" Si Ihrom tidak kuasa menahan tawa kecilnya membayangkan hal tersebut.

Dipanggil seluruh arsitek yang ia pernah kenal untuk menentukan bagaimana bentuk dan lokasi rumah impiannya. Sepuluh desain telah terdaftar, dan hanya satu desain yang akan dipilih sekarang. Wajah-wajah para arsitek menampakkan kekhawatiran. Berharap dengan sangat bahwa desain yang mereka rancang dengan susah payah akan membuat Ihrom tertarik memakainya. 

Demi melihat wajah-wajah itu. Si Ihrom mengeluarkan sedikit celoteh. Ahh, andai saja aku uangnya banyak. Akan kupakai semua desain kalian untuk rumah-rumahku. Namun apa daya, uang ini hanya sanggup untuk membangun satu rumah saja.

Diperiksanya semua rancangan satu per satu. Ada yang sedikit menawan hati si calon pemilik rumah. Dalam salah satu rancangan, si arsitek menjanjikan pemandangan sunset tiap sore akan didapat dinikmati bila desainnya diterima.

Ihrom memang menyukai sunset. Dan gara gara sunset lah ia menemukan permata. Waktu pengerjaanpun akan dimulai dengan segera.

Waktu melesat dua bulan tanpa terasa.  Bangunan itu telah selesai berdiri.. Rumah seharga 5 milyar.

“"Ahh, gpapa. uang 5 milyar melayang, yang penting setelah ini beribu-ribu orang akan mengagumi rumahku" pikir si Ihrom di dalam hati.

Dan dugaan si Ihrom tidak meleset. Keindahan dan nuansa megah membuat tetangga yang melewatinya berdecak kagum tak terkira.



Semua lantai dilapisi dengan keramik import dar perancis. Ruang tamu yang disananya nampak sebuah kolam renang dengan air hangat. Sebuah taman yang dihiasi dengan ikan-ikan indah berbagai warna. luas kamarnya pun jangan dikata, lebih besar 10 kali lipat dari ukuran kamar kos para mahasiswa pada umumnya. Tentunya perabotannya pun tidak kalah hebat. Deskripsi singkat ini nampaknya tidak akan cukup untuk menggambarkan betapa hebatnya rancangan si arsitek kenamaan Rina. Tapi, dari semua desain yang menawan itu, ada satu spot yang amat dia ingin cicipi. Serambi depan.

Seperti yang dijanjikan Rina, dari titik itu, kita bisa melihat indahnya matahari terbenam yang selalu membawa kedamaian dalam tiap hati yang memahaminya.

Sore itu pun tiba, ditemani dengan alunan musik alam yang merdu. Cicit burung pipit yang hinggap beterbangan mencari maham. si Ihrom duduk di papan berkaki empat dengan ukiran jeparanya yang khas dan melegenda.


Ada hal yang mengganggu pandangannya untuk menikmati sesuatu yang si arsitek utarakan tadi.



Sesuatu yang besar, gagah, kuat yang bila badai datang pun mungkin tidak akan membuatnya bergeser sedikitpun. Sebuah pohon yang sangat terkenal di negeri matahari terbit. Pohon yang tidak biasanya tumbuh di daerah yang notabene tropis ini. POHON SAKURA tepat berdiri di depannya.




Daun-daun yang berwarna merah muda menambah keanggunan dari pohon tersebut. Sejatinya bahkan para tetangga iri melihat rumah Ihrom ditumbuhi pohon sakura yang melegenda. Tapi entah apa yang Ihrom pikirkan.  Karena merasa terganggu dan kesal si Ihrom pun akhirnya memanggil-manggil si Maula adik perempuannya.



"Maula, Maula, tolong tebang pohon ini. Pohon ini mengganggu pemandanganku."


"Bukankah kak Ihrom bisa menggeser tempat duduk kaka tanpa harus menebang pohon sakuranya?"

........

“Jadi kita nggak boleh menebang pohon sembarang ya kek...”  Lana menimpali cerita si kakek yang telah usai. Memasang wajah mantap dan yakin benar bahwa yang ia ucapkan tadi bukanlah kesimpulan yang salah. 

Si kakek tertawa, heran melihat cucu gadisnya yang imut menggemaskan cepat sekali menangkap cerita nya barusan.

Kau benar Lana sayang, kau tidak salah. Kau tahu Lana berapa banyak keputusan di dunia ini yang mengorbankan begitu banyak ‘keindahan sakura’ hanya karena emosi belaka.

Kau ingat si Ihrom tadi sayang? Ia hampir saja ‘membunuh’ keindahan si pohon hanya karena ia kesal tidak bisa melihat sunset. Padahal jawabannya sungguh dekat sekali untuk mengatasinya.

“tinggal menggeser tempat duduknya ya kek?’

anak yang cerdas. Sambil mengusap-ngusap rambut lembut milik cucu gadisnya.

Lana, kakekmu ini pernah mendengar kalimat sederhana dari seorang sahabat lama.

'Sebaik apapun keputusan yang kau ambil saat marah, percayalah itu tetap keputusan buruk'

Si Lana tiba-tiba berpindah duduk dari pangkuan si kakek, ke bangku sebelahnya. Dan si kakek hanya mencubit pipi tembemnya.
“Ihhh si kakek” dan mereka berdua tertawa :D




Cerita Kedua di Bulan Puasa 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar