Kalian pernah lihat rusa? Dimana? Bagaimana
pendapat kalian tentang mereka. Nah, cerita kali ini akan mengisahkan tentang darimana tanduk si rusa berasal.
Di suatu hutan di pedalaman Kalimantan Barat hidup berbagai populasi hewan yang saling berjalan selaras dengan alam. Terdapat kumpulan kerbau dengan burung jalak yang menempel di pundaknya. Burung-burung nan penuh warna menari-nari di udara membentuk formasi yang tidak kalah dengan indahnya pelangi. Tupai dan bajing terus menerus lompat dari dahan satu ke dahan lainnya guna mencari makan. Dan masih banyak lagi, tak terkecuali dengan segerombolan rusa.
Dari sekian banyak rusa tersebut, ada satu rusa yang seolah-olah tidak mau bergabung dengan rusa lainnya. Rusa itu bernama Supri.
Duhai kenapa pula dengan rusa yang satu ini. Kenapa dia tidak suka berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Dia justru sering terlihat terdiam gugu di tepian danau.
Rasa kepedulian membuat rusa lain bernama Sarip akhirnya mencoba menemani ‘kawan’ kecilnya tersebut. Dia takut nantinya jika Supri melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Bunuh diri misalnya.
“Kenapa kau kawan, kau sehat kan? Ada kah yang mengganggu pikiranmu hingga akhir-akhir ini kau sering menyendiri di sekitar danau ini?” tiba-tiba pertanyaan lembut itu membuyarkan lamunan sang supri.
“Kau tahu Sarip, kita itu buruk ya? “Celetuk Supri tanpa menoleh wajahnya ke arah Sarip.
“Eh, kok bisa gitu?” tanya balik si Sarip sambil mengernyitkan dahi. Tak paham benar apa maksud yang dari kalimat buruk yang barusan dilontarkan Supri tersebut.
“Kau tahu Sarip, kita itu buruk ya? “Celetuk Supri tanpa menoleh wajahnya ke arah Sarip.
“Eh, kok bisa gitu?” tanya balik si Sarip sambil mengernyitkan dahi. Tak paham benar apa maksud yang dari kalimat buruk yang barusan dilontarkan Supri tersebut.
“Lihatlah
baik-baik ke dalam air danau itu, kita tidak memiliki tanduk yang seindah punya
si Sidik, tanduk yang membuatnya dikagumi oleh para rusa betina. Dan kau lihat
sendiri kakimu dan kakiku, bukankah itu terlihat jelek sekali dengan ukuran
kaki sekurus dan sekecil ini? Nampaknya Tuhan menaruh yang jelek-jelek pada
diri kita, dan menaruh rusa menawan itu justru pada si Sidik”
“Jadi itu yang membuat kau terus menyendiri di sini Pri, kau disini hanya untuk merenenungi apa yang menurutmu suatu ‘ketidakadilan’. Kau memanasi hatimu sendiri dengan terus menerus berharap ‘kebaikan’ yang dimiliki Sidik itu harusnya jadi milikmu?” yang ditanya justru terdiam membisu memandangi pantulan bayangannya sendiri yang menurutnya buruk.
Hari itu, sebuah permohonan terlontar dengan mantap dari mulut si Rusa ‘penyendiri’ itu. “TUHAN, BERI AKU TANDUK YANG JAUH LEBIH BAGUS DARI PUNYA SIDIK, DAN HILANGKANLAH KAKI KURUSKU INI, GANTILAH DENGAN KAKI YANG BERISI AGAR TERLIHAT LEBIH GAGAH DIBANDINGKAN RUSA LAIN.”
Petir menyambar-nyambar di udara seolah ikut mengamini doa rusa di sebelah danau tersebut. Dan si Supri akhirnya tertidur di bawah pohon rindang setelah mengucapkan doa dengan segala suara yang ia punya.
Keesokan harinya, seperti biasa, ia menuju kembali ke tepian danau untuk kembali melanjutkan ratapan kejelekan dirinya. Hei tapi apa yang dia lihat di air? Ia melihat tanduk yang sangat indah, jauh lebih indah daripada kepunyaan Sidik. Dan lihatlah kakinya sekarang, berisi dan terlihat lebih gagah. Tidak ada lagi kaki kurus menyedihkannya tersebut.
Dan prediksinya kemarin sore memang benar-benar jitu, dengan segala daya tarik yang sekarang ada pada dirinya, para rusa betina berebut untuk memikat hati si Supri, bahkan tidak hanya rusa saja yang terpikat, manusia pun juga.
Melihat tanduk yang teramat menawan tersebut, timbul juga keinginan manusia untuk memilikinya. Dengan bermodalkan tombak yang ujungnya sudah dipertajam dengan pisau sang manusia berusaha memburu si Supri.
Seharusnya si Supri bisa dengan mudah lari meloloskan diri dari kejaran pemburu yang berlari tersebut. Bukankah kecepatan lari rusa jauh lebih tinggi dibandingkan kecepatan lari seorang manusia?
Sayang beribu sayang, kaki yang ia miliki sekarang bukanlah kaki yang menemaninya lari dari dulu. Dan sialnya lagi, ketika ia berusaha bersembunyi dengan masuk ke dalam hutan lebat, Tanduk yang menawannya justru tersangkut dinatara pohon-pohon bambu.
Pantulan kilatan cahaya dari bilah pisau sang manusia sudah berada satu meter dan kian lama kian mendekat ke kulit sang rusa.
Dalam sepersekian detik itu si Supri tersadar.
Tanduk yang ia puja-puja ternyata yang menjadi malapetakan bagi hidupnya. Dan kaki kurusnya yang dianggap menyedihkan ternyata justru yang selama ini membantunya berlari kencang meloloskan diri dari kejaran pemangsa.
Bukankah sahabatnya si Sarip kemarin berpesan... boleh jadi yang kita anggap baik, ternyata justru buruk bagi kita. dan boleh jadi sesuatu yang kita anggap buruk, ternyata justru terbaik bagi kita.
Ahhh, salahku juga tidak mendengarkan nasihat baiknya....

Subhanallah, bener banget bang..
BalasHapuskasian sekali si Rusa, dikaruniai dengan tanduk yang sangat indah, namun dengan keindahannya itu, malah membuatnya dalam Keterkutukan seumur hidup sampai turun-turunannya..
Maka kita juga harus berhati-hati dengan kelebihan dan kemampuan kita,, hehe