Senin, 24 Maret 2014, jam
ditengah kota berdentang anggun sebanyak 6 kali. Suara teng tung teng tung
laksana dehemen orang yang paling bijaksana yang pernah hidup. Sepagi itu,
seluruh penduduk kota ‘comal’ mulai berlalu lalang sambil sibuk melihat jam
ditangannya. Lagi-lagi suatu tradisi apik yang dikembangkan oleh masyarakat
sekitar secara turun temurun sejak kota ini dilahirkan. ‘tepat waktu adalah
harga mati.’ Sejatinya bila pemandangan ini dilihat oleh kota lain, tentulah
sangat menginspirasi. Atau justru mengkonfrontasi hati untuk membenci hal yang
seperti ini? Kumbang pun membisu tidak mampu menjelaskan apa yang dipikirkan
setiap manusia di bumi.
Hari memang begitu cerah. Sinar
mentari bersahabat baik dengan mereka
yang hatinya sedang baik. Dia menghangatkan dengan setia tanpa pamrih dari
mereka yang menerima. Namun, hari yang cerah tidak menjanjikan bahwa tiap hati
manusia pagi itu secerah pagi yang mereka lihat
Seorang pemuda berusia sekitar 17 atau 18an terlihat termenung di
bangku taman kota. Pandangannya melihat kosong ke arah penduduk yang silih
berganti di hadapannya. Muka yang menampakkan kesedihan dan ketakutan, ditambah
lagi sorotan mata yang sama sekali tidak semangat untuk menjalani pagi.
Lelaki yang duduk ini sedang ada masalah, masalah terhadap
mimpi-mimpinya. Beberapa hari ini ia memimpikan mimpinya yang berakhir buruk.