Jumat, 31 Januari 2014

Hitam “Ternyata Tidak” Terlambat

Di sebuah desa bernama Valley of Peace terdapat perkumpulan para remaja yang terdiri dari 9 orang. Si Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu dan terakhir si Hitam.

Seperti tahun-tahun sebelumnya. Delapan sekawan ini selalu mengadakan pesta minum teh di bulan februari sebagai tanda syukur atas panen teh yang mereka tanam.

Segalanya sudah dipersiapkan, mulai dari tempat, makanan, undangan pun telah disebarkan. Dan ada suatu tradisi yang mereka pegang erat. Mereka tidak akan memulai acara sebelum semua anggota persekutuan itu datang.

.....

Rabu, 29 Januari 2014

Hitam Terlambat


Apa yang kita pikirkan tentang kata yang satu ini? warna? kelam? Pekat? Resah? Dan segala perasaan negatif lainnya.

Ada beberapa kisah hitam dalam beberapa versi. Dan yang satu ini adalah salah satu versi yang disampaikan oleh seorang anak kecil yang senang berkhayal.

Disepanjang musim semi, di desa Valley of Peace yang berpenduduk 8 anak kecil selalu diadakan acara perjamuan teh sebagai tanda syukur akan panen kebun teh yang penduduk tanam.

Segalanya sudah dipersiapkan, mulai dari tempat, makanan, undangan pun telah disebarkan. Dan ada suatu tradisi yang mereka pegang erat. Mereka tidak akan memulai acara sebelum semua penduduknya datang. 2 jam mereka menunggu, namun Hitam tidak pula datang. Selang beberapa lama kemudian Hitam tiba dengan santainya.

‘Dari mana saja kau? Kita telah menunggumu sampai tenggorokan kami kering kerontang.”. Bukannya minta maaf, Hitam justru menjawab dengan santainya. ‘Tadi ada urusan yang lebih penting yang harus ku kerjakan’

Jika terlambatnya satu kali, dua kali, atau tiga kali mungkin tidak akan terlalu menyakitkan hati. Namun bagaimana jika selalu terlambat di setiap acara dan tugas? Rapat, acara desa, kerja bakti dan segala acara lainnya, si Hitam pastilah yang datang paling akhir.

Akhirnya, dengan kesepakatan bersama dari semua pihak, teman-teman hitam pun memutuskan untuk meninggalkan Hitam.

Sejak saat itulah, Hitam tidak ada di langit bersama 7 warna yang lain di pelangi.

Ditulis dari cerita yang sama yang dituturkan Tere Liye


Rabu, 01 Januari 2014

Cendekia itu...........



                Senin, 24 Maret 2014, jam ditengah kota berdentang anggun sebanyak 6 kali. Suara teng tung teng tung laksana dehemen orang yang paling bijaksana yang pernah hidup. Sepagi itu, seluruh penduduk kota ‘comal’ mulai berlalu lalang sambil sibuk melihat jam ditangannya. Lagi-lagi suatu tradisi apik yang dikembangkan oleh masyarakat sekitar secara turun temurun sejak kota ini dilahirkan. ‘tepat waktu adalah harga mati.’ Sejatinya bila pemandangan ini dilihat oleh kota lain, tentulah sangat menginspirasi. Atau justru mengkonfrontasi hati untuk membenci hal yang seperti ini? Kumbang pun membisu tidak mampu menjelaskan apa yang dipikirkan setiap manusia di bumi.

                Hari memang begitu cerah. Sinar mentari bersahabat baik dengan  mereka yang hatinya sedang baik. Dia menghangatkan dengan setia tanpa pamrih dari mereka yang menerima. Namun, hari yang cerah tidak menjanjikan bahwa tiap hati manusia pagi itu secerah pagi yang mereka lihat

Seorang pemuda berusia sekitar 17 atau 18an terlihat termenung di bangku taman kota. Pandangannya melihat kosong ke arah penduduk yang silih berganti di hadapannya. Muka yang menampakkan kesedihan dan ketakutan, ditambah lagi sorotan mata yang sama sekali tidak semangat untuk menjalani pagi.

Lelaki yang duduk ini sedang ada masalah, masalah terhadap mimpi-mimpinya. Beberapa hari ini ia memimpikan mimpinya yang berakhir buruk.