Disuatu suatu sore yang cerah, ditemani siluet mentari dengan warna
kemerah-merahan. Ihrom memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri pantai impian
yang berjarak kurang lebih 20km dari tempat tinggalnya.
Kicauan burung camar yang saling bersaut-sautan dan juga deburan ombak yang
gulungannya saling susul menyusul bak seorang anak kecil yang mengejar kawan
‘jahat’ yang tega menjahilinya. Membuat Ihrom terbenam dalam perasaan takjub
hingga ia melupakan apa yang dari tadi mengganggu dan berdendang merdu dalam
perutnya. Rasa Lapar
Langkah demi langkah ia gerakan ditepian pantai.
Sebuah kilatan cahaya sedikit menusuk pandangannya. Semakin ia dekati, maka
semain tajam tikuman dari kilau itu. Dibuka dan disingkirkan batu batu kerikil
yang menghalanginya. Sebuah Permata. Pemata seukuran kelereng yang biasa ia mainkan di kala kecil dulu.
