terima kasih buat teman baru ku yang tidak mau ku panggil mba, katanya berasa tua. sampean mengingatkanku untuk melanjutkan sesuatu
oh ya mba, mumpung kau mengingatkan itu,
mungkin aku akan bercerita sedikit tentang kata 'lanjut' itu mba.
mentari sore mulai berpamitan guna berganti bulan, bunga-bunga mulai menolehkan wajah manisnya kearah ufuk barat. kelelawar terbang kesana-kemari seakan ingin memberikan tanda, tanda yang masih digunakan oleh orang tua jaman dulu-dulu, tanda untuk pulang.
tapi tidak bagi Ihrom, sore itu. sore dimana tugas terasa menumpuk dekat di depan pelupuk matanya. membuatnya 'buta'. buta akan waktu. ya, Ihrom sebagai mahasiswa baru tidak sadar, tugas ospeknya telah ia kerjakan hingga jam dinding membunyikan suara khasnya sebanyak 10 kali. dan panggilan ini benar-benar 'mengharuskannya' untuk pulang.
gunting, kertas, senter dan segala peralatan tadi segera ia masukkan ke tas ransel warna hitam miliknya. tidak perlu waktu yang lama, maka ia melangkahkan kakinya ke tanah guna menuju tempat kosan barunya di gang arwana II yang berjarak kurang lebih 3km dari spot tadi ia 'lepas landas'
'ceeep'
listrik mati menyelimuti kawasan jogjakarta.
bulan yang belum waktunya memelototi bumi menambah aura kegelapan yang ada. membuat seketika langkahnya terhenti.
Ihrom tidak bisa melihat.
dan apakah yang akan diperbuatnya?
apakah dia akan sms teman-temannya untuk menjemputnya dikala temannya tidak tahu dimana tepatnya lokasi si Ihrom (maklum lah, mahasiswa baru belum hafal jalan)? tidak, bukan itu.
Ihrom hanya mengambil senter di ranselnya, senter yang hanya memberikan jarak pandang 10 meter di depannya. dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.
'gang arwana II'
perlahan-lahan ia memasuki gang tersebut. ada yang terasa aneh di hatinya. rumahnya tidak sama dengan yang ia lihat pagi hari tadi. apakah itu artinya para penghuni gang langsung merenovasi rumah mereka saat Ihrom mengerjakan tugas ospeknya?
'impossible'
Ihrom kembali ke ujung gang tadi dan sekali lagi melihat papan nama gang dengan lebih teliti. tertulis, 'gang arwana III'
akhirnya Ihrom tiba di kosan gang arwana II dengan selamat. tanpa pikir panjang ia merebahkan dirinya ke dalam ranjang empuk di kamarnya. dan sekali lagi, malam ini hening oleh mimpi-mimpi para mahasiswa baru yang kecapean.
end
pernah salah satu dari kita mengalami hal demikian?
tentunya saya tidak tahu, karena ini hanyalah tulisan fiksi belaka. karakter dan tempat kejadian hanyalah imajinasi penulis saja, jika ada kesamaan, harap maklum
jadi ngomong apaan sih
kadang kita dihadapkan dalam suatu keadaan 'listrik di sekitar kita mati total'.
keadaan dimana kita benar-benar bingung mau melakukan apa
bingung mau pilih yang mana
bingung mau melakukannya atau tidak
dan bahkan sekarang banyak kebingungan yang nampaknya telah berevolusi menjadi sebuah kata. kegalauan mereka menyebutnya.
dalam kasus tadi
apakah kita akan menunggu listriknya menyala seluruhnya dulu baru berjalan?
apakah kita mau menunggu sesuatu yang bahkan kita belum yakin kapan akan menyalanya?
apakah kita akan menunggu kebingungan itu benar-benar sirna dari pikiran kita baru melakukan sesuatu?
atau kita ambil cahaya seadanya, dan segera melangkah maju?
hidup ini sederhana
jangan menunggu semuanya jadi terang baru jalan
tapi berjalanlah maka yang di depanmu akan menjadi terang
(terlihat oleh mata lho ya, kalau tidak percaya. coba matikan lampu rumah anda seluruhnya. memang si mula-mula gelap, tapi tatap terus, maka akan nampak secercah cahaya yang membuat sekitarnya tidak segelap seperti pertama terlihat)
muncul sebuah pertanyaan, kalau bingung terus aku memilih pilihan dan melakukan yang salah gimana,?
tapi yang jelas, tidak ada yang berubah ketika yang kita lakukan hanya tidak melakukan apa apa bukan?
lagipula dengan salah masuk gang arwana III tadi, Ihrom jadi tidak akan salah lagi kalau memilih jalan pulang.
pilih --> berjalan --> jika mentok (jalan buntu atau salah jalan) --> belok --> putar arah --> paling nggak kita bisa tanya pada orang yang telah kita lewati
sederhana?
selalu sesederhana itu
so, yuk kita jalan yuk?
Rabu, 25 Desember 2013
Selasa, 24 Desember 2013
Buka Bersama EXE
momen bulan puasa ini memang paling pas rasanya untuk mengadakan sebuah kumpul-kumpul dengan latar belakang berbuka bareng atau istilah kerennya open together.
tak terkecuali dengan si Ihrom, di suatu jumat nan teduh. dengan diiringi semilir angin dan keramaian jalan raya yang tiada tara akibat para Para Pejuang Mudik
cerita dimulai dari........
yah biasa, kumpul dalam spot "tertentu". dan pasti kalian sudah tahu yang dimaksud tertentu tersebut. spot dimana pertama kali kita dikumpulkan jadi satu, hehe
suara bedug berdendang, entah karena memang tempat itu ramai atau bagaimana, tapi tidak ada satu pun minuman yang hendak kita "sikat" padahal yang namanya perut ini nampak seperti tanaman kekeringan mengharap hujan. dengan porsi seadanya. makanan dimeja habis dalam hitungan menit setelah disajikan. wow..
acara dilanjutkan dengan duduk-duduk dan sebuah permainan sederhana. bertempat di lapangan pusat kota yang sekarang si Ihrom melihatnya lebih seperti alkid di jogja. canda, tawa, ejekan dan semua bumbu-bumbu yang menghiasi perkumpulan itu membuat kesan yang justru tidak sesederhana seperti kesederhanaan yang ada.
terima kasih kawan, si Ihrom BISA JADI ingin tanya banyak. tapi terlupa dengan suara merdu tawa kalian dan koor "Cieeeeee" yang tidak pernah ada seorang komposer pun yang mengaturnya.
ada satu celetukan dari teman si Ihrom tadi, mungkin dalam bahasa sederhana "uang segini cuma dapat makan segini?"
kawan, bukan MAKANANnya yang mahal, tapi KEBERSAMAANnya.
kalau tidak percaya, tanyakan pada mereka yang sekarang berumur dan sudah mengurusi keluarga mereka masing-masing

kalau tidak percaya, tanyakan pada mereka yang tempat menuntut ilmunya dipisahkan oleh jarak yang teramat panjang
kalau tidak percaya tanyakan pada mereka yang biasa hidup sendirian karena suatu hal yang bahkan diri mereka sendiri tidak pernah menginginkannya.
so, tetap semangat ya EXE, oke?
EXE. terima kasih banyak :)
I_AM
tak terkecuali dengan si Ihrom, di suatu jumat nan teduh. dengan diiringi semilir angin dan keramaian jalan raya yang tiada tara akibat para Para Pejuang Mudik
cerita dimulai dari........
yah biasa, kumpul dalam spot "tertentu". dan pasti kalian sudah tahu yang dimaksud tertentu tersebut. spot dimana pertama kali kita dikumpulkan jadi satu, hehe
suara bedug berdendang, entah karena memang tempat itu ramai atau bagaimana, tapi tidak ada satu pun minuman yang hendak kita "sikat" padahal yang namanya perut ini nampak seperti tanaman kekeringan mengharap hujan. dengan porsi seadanya. makanan dimeja habis dalam hitungan menit setelah disajikan. wow..
acara dilanjutkan dengan duduk-duduk dan sebuah permainan sederhana. bertempat di lapangan pusat kota yang sekarang si Ihrom melihatnya lebih seperti alkid di jogja. canda, tawa, ejekan dan semua bumbu-bumbu yang menghiasi perkumpulan itu membuat kesan yang justru tidak sesederhana seperti kesederhanaan yang ada.
terima kasih kawan, si Ihrom BISA JADI ingin tanya banyak. tapi terlupa dengan suara merdu tawa kalian dan koor "Cieeeeee" yang tidak pernah ada seorang komposer pun yang mengaturnya.
ada satu celetukan dari teman si Ihrom tadi, mungkin dalam bahasa sederhana "uang segini cuma dapat makan segini?"
kawan, bukan MAKANANnya yang mahal, tapi KEBERSAMAANnya.
kalau tidak percaya, tanyakan pada mereka yang sekarang berumur dan sudah mengurusi keluarga mereka masing-masing

kalau tidak percaya, tanyakan pada mereka yang tempat menuntut ilmunya dipisahkan oleh jarak yang teramat panjang
kalau tidak percaya tanyakan pada mereka yang biasa hidup sendirian karena suatu hal yang bahkan diri mereka sendiri tidak pernah menginginkannya.
so, tetap semangat ya EXE, oke?
EXE. terima kasih banyak :)
I_AM
Cara Mengendarai Yang Benar?
mungkin sebagian dari kalian sudah pernah mendengar atau mungkin membaca kisah yang satu ini, dengan berniat untuk mengingatkan diriku dan dirimu dan dirinya akan sedikit kita ceritakan ulang kisahnya, barang kali bermanfaat
CARA MENGENDARAI YANG BENAR?
alkisah, hiduplah dua saudara yang bernama Ihrom dan adiknya yang bernama Maula di sebuah kota maju guna memenuhi kebutuhan hidupnya, telah 11 bulan berlalu. hidup dalam perantauan membuat kedua insan manusia ini merindu terhadap ibu bapaknya di kampung. waktu itu, bertepatan dengan h-7 hari raya.
perasaan gembira dan senang menyelimuti hati keduanya, bahkan ketika kepulangan itu masih dalam sekedar wacana. yah apa boleh buat, kerinduan memang mampu membuat seorang "terlalu" ekspresif, kalau tidak percaya, tanyakan pada anak-anak yang menanti kepulanngan ayahnya dari bekerja.
dan hari yang direncanakan pun tiba, tepat pada hari jumat, seminggu sebelum hari raya mereka mengadakan perjalanan yang banyak orang bilang dengan sebutan "MUDIK". (jangan salah, dari jaman dahulu sampai jaman kita sudah dipanggil dengan sebutan nenek moyang mungkin tradisi ini tidak akan pernah pudar bagi mereka yang memahami makna sebuah perjumpaan). dengan berbekal hasil jerih keringat mereka berbulan-bulan berbarengan dengan sebuah keledai.
Ihrom dan Maula mengendarai keledai kepunyaannya, baru menempuh jarak 100m, mereka di tegur oleh seorang nenek tua, "Dasar keluarga yang tidak punya rasa kasihan, masa keledai segitu dinaiki oleh dua orang sekaligus, sungguh tidak berperikeledaian."
mendengar komentar itu, akhirnya si Ihrom turun dari keledai, sekarang mereka berjalan dengan posisi si Maula naik di punggung keledai sedang si Ihrom berjalan kaki mengiringi mereka. baru menempuh jarak 100m, dijumpai seorang ibu tua yang berkata, "dasar anak kecil yang tidak punya perasaan, masa kakaknya disuruh jalan kaki sedangkan ia enak-enakan duduk di atas punggung keledai"
lagi lagi, karena perkataan si ibu tua tadi, mereka merubah posisi mereka dengan sama sama turun dan berjalan kaki sambil berbarengan menitih keledai kesayangannya. datanglah seorang anak kecil beserta bapaknya melintas. bahasa cadelnya tak sengaja berucap, "pah pah pah, orang-orang itu kok kurang cerdas yah pah, masa mereka punya keledai tapi tidak dinaiki si pah, lebih cerdasan adek deh pah ketimbang mereka mereka"
sebetulnya ada satu cara mengendarai lagi yang ada, tapi kita skip aja karena pada intinya sama.
dan akhirnya apa? mereka tidak sampai ke tempat tujuan.
.end
hidup ini bukanlah apa kata orang, tapi apa kata hati kita. percayalah, apapun yang kita lakukan, tidak peduli seberapa ilmiah pun yang kita lakukan. pasti akan ada saja orang yang memberikan komentar-komentar yang kadang serasa ditikam dari samping depan dan belakang.
ketika pikiran orang lain menjadi serasa sangat penting bagi kehidupan kita. maka bersiaplah kehabisan energi tanpa kita beranjak sedikitpun dari tempat kita berpijak sekarang.
salah seorang temanku berkata
"Ketika kita bermimpi, orang-orang meragukan. saat berhasil orang bilang kita hanya beruntung. ketika kita gagal, mereka tidak mau membantu dan hanya berucap, "aku bilang juga apa, dibilangin nggak manut si".
so, percayalah pada diri sendiri. oke?
I_AM
CARA MENGENDARAI YANG BENAR?
alkisah, hiduplah dua saudara yang bernama Ihrom dan adiknya yang bernama Maula di sebuah kota maju guna memenuhi kebutuhan hidupnya, telah 11 bulan berlalu. hidup dalam perantauan membuat kedua insan manusia ini merindu terhadap ibu bapaknya di kampung. waktu itu, bertepatan dengan h-7 hari raya.
perasaan gembira dan senang menyelimuti hati keduanya, bahkan ketika kepulangan itu masih dalam sekedar wacana. yah apa boleh buat, kerinduan memang mampu membuat seorang "terlalu" ekspresif, kalau tidak percaya, tanyakan pada anak-anak yang menanti kepulanngan ayahnya dari bekerja.
dan hari yang direncanakan pun tiba, tepat pada hari jumat, seminggu sebelum hari raya mereka mengadakan perjalanan yang banyak orang bilang dengan sebutan "MUDIK". (jangan salah, dari jaman dahulu sampai jaman kita sudah dipanggil dengan sebutan nenek moyang mungkin tradisi ini tidak akan pernah pudar bagi mereka yang memahami makna sebuah perjumpaan). dengan berbekal hasil jerih keringat mereka berbulan-bulan berbarengan dengan sebuah keledai.
Ihrom dan Maula mengendarai keledai kepunyaannya, baru menempuh jarak 100m, mereka di tegur oleh seorang nenek tua, "Dasar keluarga yang tidak punya rasa kasihan, masa keledai segitu dinaiki oleh dua orang sekaligus, sungguh tidak berperikeledaian."
mendengar komentar itu, akhirnya si Ihrom turun dari keledai, sekarang mereka berjalan dengan posisi si Maula naik di punggung keledai sedang si Ihrom berjalan kaki mengiringi mereka. baru menempuh jarak 100m, dijumpai seorang ibu tua yang berkata, "dasar anak kecil yang tidak punya perasaan, masa kakaknya disuruh jalan kaki sedangkan ia enak-enakan duduk di atas punggung keledai"
lagi lagi, karena perkataan si ibu tua tadi, mereka merubah posisi mereka dengan sama sama turun dan berjalan kaki sambil berbarengan menitih keledai kesayangannya. datanglah seorang anak kecil beserta bapaknya melintas. bahasa cadelnya tak sengaja berucap, "pah pah pah, orang-orang itu kok kurang cerdas yah pah, masa mereka punya keledai tapi tidak dinaiki si pah, lebih cerdasan adek deh pah ketimbang mereka mereka"
sebetulnya ada satu cara mengendarai lagi yang ada, tapi kita skip aja karena pada intinya sama.
dan akhirnya apa? mereka tidak sampai ke tempat tujuan.
.end
hidup ini bukanlah apa kata orang, tapi apa kata hati kita. percayalah, apapun yang kita lakukan, tidak peduli seberapa ilmiah pun yang kita lakukan. pasti akan ada saja orang yang memberikan komentar-komentar yang kadang serasa ditikam dari samping depan dan belakang.
ketika pikiran orang lain menjadi serasa sangat penting bagi kehidupan kita. maka bersiaplah kehabisan energi tanpa kita beranjak sedikitpun dari tempat kita berpijak sekarang.
salah seorang temanku berkata
"Ketika kita bermimpi, orang-orang meragukan. saat berhasil orang bilang kita hanya beruntung. ketika kita gagal, mereka tidak mau membantu dan hanya berucap, "aku bilang juga apa, dibilangin nggak manut si".
so, percayalah pada diri sendiri. oke?
I_AM
Langganan:
Postingan (Atom)
